oleh

Khutbah Jum’at Ustadz Agus Sakur : Negara Sedang Berduka dan Ulama Menjual Jabatannya ke Partai

Jakarta, TribunAsia.com – Khotib sholat Jum’at di Masjid Nurul Hikmah menyampaikan kepada umat Islam bahwa kondisi negara sedang berduka dikarenakan tengah diterpa bencana gempa bumi dan tsunami.

Menurut Ustadz Agus Sakur Spd.I selaku khotib menguraikan, perihal bencana alam merobohkan sejumlah bangunan dan menelan korban jiwa di Sulawesi. Diungkapkan, hal itu terjadi dikarena ulah manusia itu sendiri karena lupa kepada Allah SWT.

Iklan 52 Khutbah Jum'at

“Negara kita sedang berduka yang mana bencana didaratan dan lautan akibat manusia dari tangan-tangan manusia yang lupa kepada Allah. Yang Allah timbulkan karena ulah kita sehingga mengundang bencana,” kata khotib di Jalan Mayong Jatinegara, Jakarta Timur (5/10/2018).

“Sehingga kita lupa Allah turunkan bala dan bencana. Selain itu kita berzikir Amalia sehingga kita dijauhkan dari bencana,” tambahnya.

Ia mengajak kepada kaum muslimin untuk lebih dekat kepada pencipta agar terhindar dari mara bahaya. Kemudian, Ustadz Agus Sakur pun mengatakan, bila seluruh penduduk bumi beriman niscaya keberkahan akan datang.

“Salah satu kampung amblas yang rata dengan tanah. Bagaimana kalau tertimpa pada diri kita belum lama BNPB mengatakan Jakarta berdampak dari gempa insaallah kampung kita dijauhkan dari gempa ini. Seandainya penduduk bumi ini beriman Allah akan bukakan keberkahan dengan bencana,” jelasnya.

Selain itu, Khotib menilai menjelang pemilihan umum 2019 negara Indonesia mengalami suhu politik yang panas. Setidaknya, kata dia perbedaan pandang politik tidak menimbulkan kedengkian dan tetap menjaga kebersihan hati nurani.

“Negara kita lagi panas-panasnya banyak yang bermain diatas kerena perbedaan kaos dan warna karena kedengkian kita sebab hati ini yang penuh dengan dengki. Maka itu mari bersihkan hati kita berfikir kepada Allah,” paparnya.

Pada akhir khutbah, Ustadz Agus Sakur mengutip pernyataan dihadapan umat Islam, kerusakan terbesar ketika ulama tidak mengamalkan ilmunya dan orang-orang alim menjual jabatannya kepada lembaga politik seperti partai.

“Kerusakan besar itu ketika orang alim tidak mengamalkan jabatannya dan orang-orang alim menjual (ilmu) kepada orang partai,” ujarnya.

Namun demikian, yang lebih parah lagi kata khotib, kerusakan terbesar ketika orang-orang bodoh tidak mendengarkan kata-kata baik ulama.

“Lebih besar lagi orang bodoh tidak mau mendengarkan ulama kata-kata baik itulah yang menimbulkan kerusakan,” tutupnya. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *