oleh

Ratna Sarumpaet : Sebuah Drama atau Tragedi ?

TribunAsia.com

Oleh : Rudi S. Kamri

Hari ini saya membaca sebuah berita yang tidak terlalu membuat saya tersentak : “Ratna Sarumpaet digebuki sekelompok orang tak dikenal di daerah Bandung”. Jujur saya sangat anti kekerasan, apalagi kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak. Apapun penyebabnya tidak layak seorang perempuan atau anak-anak diperlakukan dengan kekerasan.

Tapi di sisi lain saya juga sangat tidak setuju kelompok pendukung Ratna Sarumpaet serta merta mempolitisasi kasus kekerasan terhadap Ratna Sarumpaet ini sebagai amunisi untuk menyerang Jokowi sekaligus menekan aparat keamanan untuk mengungkapkan tragedi ini. Sedangkan mereka sendiri bungkam saat ditanya wartawan apa penyebab sehingga Ratna Sarumpaet dianiaya sedemikian rupa.

Tidak mungkin juga kita sebenci apapun dengan orang lain, serta merta melakukan kekerasan terhadap orang tersebut. Jujur harus saya akui manusia Indonesia yang paling saya benci itu diantaranya Ratna Sarumpaet, Si Songong Ahmad Dhani dan si pipi tembem Fadli Zon. Tapi tidak pernah terbersit sedikitpun dalam benak saya untuk menganiaya mereka secara fisik. Paling-paling mereka saya serang secara sporadis melalui tulisan-tulisan saya.

Dengan tidak mengurangi rasa keprihatinan saya terhadap tragedi yang menimpa Ratna Sarumpaet (kalau benar terjadi peristiwanya), bagi saya figur seorang Ratna Sarumpaet memang pribadi yang sangat tidak menyenangkan. Ucapan-ucapannya terlalu kasar dan disampaikan dengan penuh kebencian yang memang tumbuh subur di hatinya. Sosok Ratna Sarumpaet bagi saya adalah tipikal orang yang selalu merasa paling BENAR dan paling HEBAT. Sehingga sangat terlihat nyata dalam raut muka dan tingkah lakunya rasa empati sosialnya sangat rendah.

Jujur saya tidak bahagia melihat seorang Ratna Sarumpaet diperlakukan secara biadab seperti ini. Tapi di lain pihak saya juga tidak terlalu berduka. Mengapa saya jadi seperti ini ? Karena beberapa peristiwa yang dipolitisasi oleh kelompok Lawan Jokowi sering sekali hanya merupakan SANDIWARA PLAYING VICTIMS semata. Sebagai contoh, kasus pelemparan bom molotov di rumah Mardani Ali Sera dan kebakaran mobil Neno Warisman ternyata hanya settingan drama murahan semata. Mereka hanya sekedar ingin menarik perhatian publik. Dan ini segera dikapitalisasi oleh mereka sebagai alat propaganda dan provokasi untuk menyerang Pemerintah.

Dalam kasus Ratna Sarumpaet juga ada keanehan. Katanya penganiayaan dilakukan tanggal 21 September lalu tapi baru terekspose hari ini. Mengapa tidak hari itu juga langsung melaporkan hal ini kepada Aparat Kepolisian terdekat ? Mengapa orang yang katanya sedang kesakitan dan trauma berat bisa berpose berfoto santun dengan Fadli Zon. Mengapa kelompok toko sebelah justru yang menyebarluaskan foto babak belur wajah Ratna Sarumpaet ke publik dan media. Ada berita lagi tgl 22 September dia masih kenceng main Twitter. Aneh bin ajaib kan. Lagi pula kalau saya jadi keluarga dari Ratna Sarumpaet pasti melarang foto sadis itu tersebar di media massa atau Medsos. Jadinya “kecantikan” seorang Ratna Sarumpaet jadi tertutup dong. Hmmmm……

Tapi saya tidak akan menuduh tragedi yang menimpa Ratna Sarumpaet itu rekayasa atau settingan. Meskipun dramanya SANGAT SARAT KEANEHAN DAN KEGANJILAN. Tapi saya menyesalkan tragedi muka bengap Ratna Sarumpaet dipolitisasi dan dijadikan alat untuk menyerang Pemerintah Jokowi. Pada saat kita sedang berduka karena musibah Lombok, Sumbawa, Palu, Sigi dan Donggala, masih saja orang mempolitisasi tragedi. Ini sebuah ironi.

Untuk Ratna Sarumpaet,

Cepet sembuh ya Ratna (kalau bener dianiaya)

Ke depan hati-hati menjaga hati

Selanjutnya hati-hati membawa diri

Kendalikan ucapan frontal yang asal bunyi, belajarlah menghargai sesama manusia. Percayalah hukum tabur tuai berlaku di dunia.

Jangan mau wajah bengapmu dijadikan materi kampanye teman-temanmu. Mereka yang dapat keuntungan, kamu cuma dapat wajah mengerikan. Gak fair, kan ?

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *