oleh

Keluarga Korban Ijazah Palsu STT Setia Menanti Kepastian Putusan PT DKI Jakarta Terkait Banding

Jakarta, TribunAsia.com – Keluarga korban ijazah palsu menanti putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta terkait proses banding yang diajukan oleh terdakwa Ernawati Simbolon dan Matheus Mangentang di STT Setia.

Melalui juru bicara perwakilan korban menilai, proses menuju kasasi belum terlihat titik terang (kepastian) karena berdasarkan undang-undang memiliki jarak waktu 14 hari setelah putusan.

Kejaksaan Negeri Jakarta Timur - ZONA INTEGRITAS (Wilayah Bebas Korupsi)

“Putusan Pengadilan Tinggi DKI sudah cukup lama hampir sebulan tetapi proses menuju kasasi belum ada titik terang, berdasarkan undang-undang waktu 14 hari terhitung sejak kapan kita juga bingung,” kata Yusuf Abraham Selly, Rabu (3/10/2018).

Ia pun menyampaikan, di PN Jaktim usai mempertanyakan putusan dan dirinya pun mengatakan, hal tersebut akan diketahui bila terdakwa yang saat ini diputus 7 tahun penjara denda 1 miliar dan subsidiair 3 bulan melakukan pemberitahuan ke pihak pengadilan tentang banding. Diketahui, terdakwa yang telah diputus di PN Jaktim pada Kamis 07 Juni 2018 saat ini berstatus tahanan kota.

“Kita butuh keserius dari lembaga peradilan terkait untuk memperoses ini secara serius, sehingga rasa keadilan kita bisa mendapatkannya kita menunggu waktu 14 hari jika tidak ada upaya dari mereka memohon kasasi maka keputusan kasasi di PT menjadi ingkrah, jika sudah ingkrah maka segera dieksekusi oleh jaksa untuk orang ini di penjara,” harapnya.

Selain itu, lambannya kinerja pengadilan membuat korban merasa kecewa dan dia pun mempertanyakan kembali tentang kepastian waktu untuk penentuan terkait banding pada terdakwa Direktur dan Rektor STT Setia.

“Korban menyampaikan kekecewaan karena berlama-lamanya berlarut pekerjaan peradilan ini, kita menginginkan secepatnya dikerjakan kita ingin tahu tgl pastinya kapan jadi kita kawal. Kita akan kawal ketat sampai dimana saja kita kawal. Kita mendengar upaya-upaya dari terdakwa tapi tugas kita untuk mengawal,” tegas Yusuf.

Tidak hanya itu, dia turut menyampaikan hingga 1 bulan penuh pada kalender tetapi belum menerima salinan putusan tersebut. Sebelumnya, salinan itu dijanjikan kepadanya akan selesai selama batas waktu 2 hari.

“Kita kecewa salinan putusan sudah 1 bulan belum diterima sama sekali, itu juga kita kecewa saya dijanjikan dua hari baru turun,” ujarnya.

Tentang isi putusan  Pengadilan Tinggi DKI Jakarta tanggal 5 September 2018 nomor 251/PID.SUS/2018/PTDKI yang amar putusannya berbunyi bahwa mengadili menerima permintaan banding dari Para Pembanding atau Para Terdakwa dan Jaksa Penuntut Umum.

Menguatkan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Timur dengan nomor : 100/Pid.Sus/2018/PN Jkt.tm. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *