oleh

Tanggap Darurat Gempa, Dirjen Pas : Kondisi Bangunan Lapas dan Rutan Rusak Ancam Keselamatan Napi Serta Tahanan

Jakarta, TribunAsia.com – Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Dirjen Pas) Sri Puguh Budi Utami menyampaikan, dampak gempa bumi  terkait kondisi penyelamatan narapidana dan tahanan di lembaga pemasyarakata di Rutan Palu, Poso dan Donggala Sulawesi Tengah.

“Tidak beradanya para tahanan dan narapidana di lapas Palu, Rutan Poso dan Rutan Donggala, semata-mata sebagai kebutuhan penyelamatan diri atas dampak gempa,” demikian disampaikan Direktur Jenderal Pemasyarakatan, Sri Puguh Budi Utami, Senin (1/10/2018).

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Menuru Dirjen Pas, kondisi bangunan lembaga pemasyarakatan dan rutan di yang terkena dampak bencana mengalami kerusakan dan mengancam keselamatan narapidana dan tahanan.

“Kondisi ini terjadi karena bangunan lapas dan rutan di wilayah tersebut secara nyata rusak serta mengancam keselamatan mereka (red- narapidana dan tahanan),” ungkap Utami lagi.

Ia tidak menampik sempat adanya provokasi perlawanan dengan pembakaran oleh penghuni di Rutan Donggala. Namun secara etika dan moral hukum, hal ini bisa dimaklumi, karena secara naluriah mereka butuh keselamatan jiwa, juga informasi tentang kondisi keluarga mereka di luar dan ini terbukti dengan sebagian besar mereka kembali melaporkan diri ke lapas rutan.

“Lumpuhnya penyelenggaran layanan, khususnya layanan makan serta kondisi hunian yang belum seutuhnya dapat dipergunakan, menjadi pertimbangan mereka tetap berada di masyarakat atau dekat dengan keluarganya,” imbuh Utami.

Rika selaku Kasubag Publikasi Humas Ditjenpas melalui Siaran Pers Ditjen Pas akan mempertimbangkan situasi kedaruratan dan akan menentukan batas maksimal kepada tahanan dan narapidana sebagai komitmen menjalani tindak pidananya.

“Dirjenpas pertama perempuan ini mengambil langkah cepat bersama jajarannya, merespon situasi  darurat dampak gempa,” katanya kepada TribunAsia.com.

“Kami akan melakukan relokasi pembangunan seutuhnya di Rutan Donggala, karena seutuhnya tidak dapat berfungsi pasca pembakaran,” lanjutnya.

Perlu diketahui, pemulihan bangunan tingkat berat akan dilakukan di Lapas Palu, tembok antar bangunan dan tembok luar yang roboh. Sedangkan,  pemulihan tingkat sedang dilaksanakan Rutan Parigi dengan pembangunan tembok luar yang roboh dan pemulihan tingkat ringan dilakukan di Rutan Palu terhadap keretakan di bagian dalam rutan.

” Pimpinan wilayah telah melakukan koordinasi dengan pihak pemda dan kami berkoordinasi dengan Kementrian Keuangan, BAPPENAS, BNPB untuk dukungan  kebutuhan darurat dan upaya pemulihan,” jelas Utami lagi.

“Kami mengusulkan kepada Bapak Menteri untuk menetapkan  kondisi Pemasyarakatan di Palu dan sekitarnya sebagai Wilayah Darurat Gempa,” tambahnya.

Saat ini terdapat 15 UPT di wilayah Sulawesi Tengah dan 8 di antaranya terkena dampak gempa. Sedangkan jumlah hunian keseluruhan sebanyak 3220 orang narapidana dan tahanan, over  123 % dari kapasitas seharusnya.

Lebih lanjut, kata dia UPT yang berdampak gempa adalah Lapas Palu, Rutan Palu, Rutan Donggala, Cabang Rutan Parigi, Rutan  Poso, Bapas  Palu, LPKA Palu dan LPP Palu.

 

“Kami juga akan melengkapi pendataan tahanan dan narapidana yang berada di luar atas situasi penyelamatan dari robohnya bangunan lapas dan rutan, serta menetapkan masa transisi sebagi respon situasi tanggap darurat, dengan himbauan wajib lapor sampai dengan dapat berfungsinya secara utuh layanan lapas dan rutan,” ungkapnya lagi.

Sementara, untuk kepentingan pengendalian dan ketertiban keamanan lapas rutan, pihak wilayah dan lapas rutan bekerjasama dengan kepolisian dan TNI.

“Saya menyampaikan belasungkawa kepada masyarakat Palu dan sekitarnya. Terkhusus  keluarga besar Pemasyarakatan, petugas dan penghuni lapas rutan, mari kita kuatkan doa, bersama-sama kita bangun dan bangkit. Percayalah bantuan Tuhan YME akan selalu bersama kita,” pungkas Utami. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *