oleh

Rivalitas

TribunAsia.com

Rivalitas atau persaingan dapat terjadi di segala bidang, mulai politik, bisnis, sampai ke dakwah.

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Jika rivalitas tesebut didasarkan pada nafsu syahwat duniawi, terkadang sikap permusuhan dapat terlahir.

Sikap ini, menurut Iman al- Ghazali, merupakan salah satu penyebab tumbuhnya penyakit dengki (HASUD) di dalam hati, satu penyakit yang mampu menghalangi mata dari melihat kebaikan dan keunggulan orang lain (musuh).

Akibatnya, siapa pun yang sudah terkena penyakit ini akan senang melihat orang lain susah dan susah melihat orang lain senang (SMS).

Hal tersebut seperti permusuhan orang-orang kafir kepada Rasulallah SAW yang digambarkan Alquran.

“Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya.

Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudaratan kepadamu.

Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.”

(QS Ali Imran [4]: 120).

 

PERBUATAN DENGKI TIDAK AKAN BERAKIBAT BURUK PADA ORANG YANG DIDENGKI.

Malah yang terjadi akan sebaliknya, yang didengki hidupnya akan makin maju, sementara pendengki akan makin terpuruk, baik lahir maupun batin.

Hal tersebut karena mendengki seperti orang yang meminum racun tetapi berharap orang lain yang mati.

Pantas kalau Nabi SAW mewanti- wanti bahaya penyakit ini.

 

Jauhilah sifat dengki.

Sebab, ia akan memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (HR Abu Dawud).

Sebegitu bahayanya penyakit dengki jika bersemayam di dalam hati maka perlu upaya untuk mengobatinya.

 

Menurut al-Ghazali,

Penyakit hasud dapat diobati dengan melakukan kebalikan dari penyebabnya.

  • Jika hasud disebabkan rasa permusuhan, obatnya dengan membangun persaudaraan
  • Cara membangun persaudaraan dapat dimulai dengan mencari kelebihan dan keunggulan lawan, kemudian berusaha memujinya
  • Ada banyak keuntungan jika dapat memuji keunggulan lawan

 

PERTAMA, hati akan menjadi lunak.

Kondisi hati seperti ini merupakan prakondisi membangun persaudaraan.

KEDUA, memuji lawan dapat membuka pikiran sehingga kita dapat menilai prestasi lawan secara objektif.

Cara pandang objektif memungkinkan kita dapat belajar dari keunggulannya.

Kita bisa melakukan pengamatan, peniruan, dan modifikasi terhadap keunggulan tersebut.

Sehingga, jika kalah dalam persaingan, kita kalah dalam keadaan terhormat karena kalah dari yang unggul.

Selain itu, jika menang dalam persaingan, menang dengan kemuliaan, kita menjadi terbaik di antara orang-orang baik dan unggul.

Bersaing menjadi yang terbaik (al-KHAIR)

merupakan perintah Allah yang sangat penting.

Hal tersebut ditunjukkan dalam satu frasa fastabiq al-khairaat yang terdapat dalam ayat:

“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya.

Maka berlomba- lombalah kamu menjadi yang terbaik (fastabiq al-khairaat).

Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat).

Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

(QS al-Baqarah [2]: 148).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *