oleh

Pembelaan Pengacara : Dakwaan Pasal 374 Buktikan Karyawan atau Bukan

Jakarta, TribunAsia.com – Pengacara terdakwa Abdurahman mengatakan terkait Pasal 374 tentang penggelapan senilai Rp 230 juta di Toko Madina Reload sangat kontras dengan perjanjian kerja yang diutarakan hanya bekerja sebagai pegawai tidak tetap atau freelance.

“Nama yang bersangkutan itulah jadi dakwaan pasal 374 itu kan penggelapan. Mangkanya, kita mau jabatan-jabatan seperti apa kalimatnya menjabatnya. 374 nggak masuk, seharusnya kalau mau lihat buktikan orang yang karyawan apa bukan. Nah itu terus yang dibilang masalah hutang tadi ada beberapa kali udah dipotong gaji. Mungkin dia setiap menerima gaji dipotong jadi mungkin tiap bulan dia menerima 3 juta udah dipotong,” kata Hazmin Andalusi Sutan Muda, SH.,MH kepada media di pelataran PN Jaktim, Senin (1/10/2018).

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Ia menambahkan, telah mempraperadilkan kasus tersebut dikarenakan tidak sesuai dengan ketentuan prosedur hukum. Kemudian, kliennya telah memiliki etikat baik untuk pengembalian uang yang dipinjam dengan cara dibayar bertahap.

Menurutnya, langkah-langkah kliennya telah dinilai memiliki niat positif untuk melunasi pinjaman meski dilakukan dengan angsuran tiap bulan. Maka, pihaknya pun menyatakan sebaiknya pelapor melakukan somasi lebih dahulu.

“Pihak keluarga telah menyelesaikan masalah-masalah dia bilang pak mau ganti dengan cara dicicil nah mungkin gajinya dipotong segala macam. Dia mau ganti tapi dicicil minta waktu untuk diberikan supaya bisa dicicil. Masalah penggelapan itu harusnya diselesaikan dulu misalnya disomasi dulu. Mungkin sudah tidak ada niat baik mungkin ini jalur terakhir (hukum),” tambah pengacara terdakwa.

Diketahui, Deni Darmawan telah melaporkan mantan karyawannya ke Polsek Duren Sawit yang sebelumnya diangkat menjadi akunting sekaligus menjabat auditor pada tahun 2016 di Toko Madina Reload dengan tugas membuat laporan penjualan pulsa.

“Dia (terdakwa) akunting sekaligus auditor 4 cabang di Buaran, Cipinang, Duren Sawit dan Radjiman. Dia meeting dia beri laporan menggembirakan. Saya survei langsung saya lihat kenapa stok saya menurun sehingga saya cek kepala toko,” kata saksi pemilik toko pulsa.

Dihadapan Majelis Hakim PN Jaktim, saksi Deni beberkan laporan keuangan terdakwa di cabang konter pulsa jalan Radjiman Cakung, Jakarta Timur tidak sesuai. Bahkan, Bos konter pulsa mendapat laporan dari kepala toko bahwa Abdurahman kerap mentransfer uang ke rekening istrinya.

“Saya cek ke kepala toko (Supriyadi), dia bilang setiap bulan diminta transfer ke rekening atas nama Opan ke istrinya kata pak Abdurahman untuk pelunasan toko di  Radjiman,” jelas saksi.

Kasus hukum yang menjerat akunting dan auditor tersebut diancam dengan hukuman 4 tahun dan dikenakan Pasal 374 oleh penuntut umum dari Kejari Jaktim. Hal itu, disebutkan karena terdakwa telah melakukan penggelapan dan menggunakan uang senilai Rp 233 juta lebih.

“Sebetulnya dua-duanya pasal 378 dan 374 dimasukan tapi kita masukan salah satu yang terbukti. Ancaman sama 4 tahun, uang yang dipakai 233 juta koma sekian. Itu penggelapan jabatan kerena dapat gaji bekerja disitu,” papar Ikhsan selaku JPU.

Sementara, terdakwa menuturkan kepada Majelis Hakim  Tarigan Limbong Muda,SH perihal dirinya yang diutarakan saksi sebagai akunting dan auditor tidak pernah ada perjanjian sebagai karyawan di Toko Madina Reload. Akan tetapi, hanya sebatas freelance dan terkait pinjaman uang telah dilunasi melalui pemotongan gaji senilai Rp 1,5 juta sampai Rp 2 juta rupiah.

“Tahun 2017 saya tidak pernah ada pengangkatan sebagai karyawan. Bulan Desember punya usaha sendiri saya bilang minta freelance saja sampai bulan Juli. Terkait pinjaman sudah saya lunasin terkait potong gaji Rp 1,5 juta sampai Rp 2 juta sudah dilunasinya motong gaji itu. Bukti rekening di toko Rajiman ada bukti pembayaran tersebut,” tandas terdakwa Abdulrahman (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *