oleh

Nota Pembelaan Terdakwa Terkait Kasus Jual-Beli Besi Miliaran Rupiah

Jakarta, TribunAsia.com – Nota pembelaan (Pleidoi) atas nama terdakwa Susanti Kurniadi dibacakan oleh Tim Penasihat Hukum diantaranya Rielen Pattiasina, B.Sc., S.H., Rita Mesrawati, S.H., Soetrisnowati, S.H., Arief Ridho Wegitama, S.H., Ondo A. D. Simarmata, S.H., Advokat pada Rielen dan partner Law Office berkantor di Jalan Pintu Air No. 7 Blok B 6, Kompleks Mitra Pasar Baru, Jakarta Pusat.

Adapun  terhadap surat tuntutan penuntut umum No. Reg. Perkara : PDM 188/JKT.TIM/07/2018 tertanggal 27 September 2018 dan Kepada Yang Mulia Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Timur c.q. Majelis Hakim yang Mulia yang memeriksa, mengadili dan memutus dalam perkara nomor : 746 / Pid. B / 2018 / PN.JKT.TIM.

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Setidaknya, ada beberapa poin yang disampaikan oleh Penasehat Hukum dalam pembacaan Pleidoi di muka persidangan tentang terdakwa Susanti Kurniadi atas dakwaan Primiair Pasal 378 KUHPidana dan dakwaan Subsidiair 372 KUHPidana.

Dalam poin yang dibacakan oleh Tim Penasehat Hukum mulai dari pendahuluan hingga poin permohonan dan penutup diutarakan diruang persidangan Pengadilan Negeri Jakarta Timur.

Pada poin VII (tujuh romawi) Penasehat Hukum menyampaikan kepada Majelis Hakim dan jaksa penuntut umum (JPU)

Berdasarkan Analisis Fakta dan Yuridis serta Kesimpulan yang diterangkan diatas, maka Kami Penasehat Hukum Terdakwa memohon kepada Yang Mulia Majelis Hakim Pemeriksa Perkara a-quo untuk mengadili dan memutuskan dengan amar putusan berbunyi sebagai berikut :

“Menyatakan Terdakwa tidak terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana Penipuan sebagaimana yang diatur dalam Pasal 378 KUHPidana ataupun yang disebut dalam Surat Dakwaan maupun Surat Tuntutan,” bunyi poin pertama.

“Membebaskan Terdakwa dari dakwaan – dakwaan tersebut (Vrijspraak) sesuai Pasal 191 ayat (1) KUHAPidana atau setidak-tidaknya melepaskan Terdakwa dari semua tuntutan hukum (Onslaag van alle rechtvervolhing) sesuai Pasal 191 ayat (2) KUHAPidana,” bunyi poin kedua.

“Memerintahkan agar Terdakwa segera dikeluarkan dari Tahanan,” bunyi poin ketiga

“Memulihkan Harkat dan Martabat serta nama baik Terdakwa sebagaimana mestinya,” bunyi poin keempat.

“Membebankan biaya perkara kepada Negara atau apabila Yang Mulia Majelis Hakim Agung berpendapat lain, mohon putusan yang seadil-adilnya (ex aequo et bono),” poin kelima.

Diketahui saksi-saksi yang pernah dihadirkan antara lain Ronny William Itar, Debora, Chicha, Siti Zahroh, Muhammad Nuruddin Arifin, Tono Sofian dan Mara Karna.

Dalam keterangan sidang pekan lalu, terdakwa Susanti Kurniadi Dirut PT Kurnia Multi Perkasa yang didirikan pada tahun 2007 yang bergerak di bidang distributor besi pipa dilaporkan ke Polda Metro Jaya terkait transaksi jual-beli mencapai nominal miliaran lebih.

“PT Karunia Multi Perkasa didirikan tahun 2007 jual beli besi pipa 8 per kilogram,” kata terdakwa Susanti.

Kemudian, dijelaskan dihadapan Majelis Hakim transaksi besi seberat 400 Ton melalui salah seorang yang disebutkan bernama Herman dan pernah meetingbersama di Senayan City, Jaksel untuk membahas proyek terkait besi tersebut.

“Saya bicarakan jual beli putus aja sekitar 100 ton ya. Saya kirim via faks. Tapi saya ada fasilitas sekitar 700 ton. Jadi saya bilang kan saya tempo karena saya pikir teman saya. Cek itu cek tempo ya ada yang 1 Minggu, 1 bulan,” ucapnya.

“Pertemuan di Senayan City mereka mengungkapkan hari itu juga. Saya Dirut saya bisa minta ke Bank May Bank. Ke mereka berlima ke Herman, Sofyan Debora yang lain saya lupa,” jelas terdakwa Susanti.

Kemudian, saat pembacaan Pleidoi oleh Penasehat Hukum terdakwa pada Senin 1 Oktober 2018 dihadiri oleh Felli Kasdi,SH.

Untuk agenda sidang berikut Ketua Majelis Hakim memberikan pesan batas waktu hingga hari Kamis (11/10) untuk menentukan agenda putusan.

“Saudara penuntut umum saya kasih waktu hari Kamis,” perintah majelis hakim kepada JPU.

“Kamis saja Bu,” jawab Felli Kasdi.

Akan tetapi, terdakwa Susanti mengatakan dihadapan Majelis Hakim tentang masalah hukum yang dihadapi dan memperjelas kejadian yang dialaminya adalah hubungan jual dan beli. Ia pun menyampaikan, surat girik diberikan tidak pernah dilampirkan dalam bukti persidangan.

“Dimana hubungan kami atas jual beli adalah saya melakukan pembelian. Telah memberikan surat girik sehingga surat girik tidak dilampirkan. Saya tidak bisa bekerja dan melunasi hutang tersebut,” kata Susanti.

“Apabila saya boleh banding saya akan banding. Saya seorang ibu yang memiliki anak kecik-kecil. Saya tulang punggung ibu saya setelah ayah saya meninggalkan dunia,” seru terdakwa. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *