oleh

Akunting Sekaligus Auditor Dilaporkan Gelapkan Uang Pemilik Toko Madina Reload Senilai Rp 230 Juta

Jakarta, TribunAsia.com – Akunting sekaligus auditor dilaporkan Bos pemilik Toko Madina Reload dengan alasan gelapkan uang senilai Rp 230 juta. Menurut saksi Deni Darmawan, dirinya melaporkan ke Polsek Duren Sawit kepada mantan karyawannya yang bernama Abdurahman karena dinilai tidak menjalankan amanah. Perlu diketahui terdakwa Abdurahman kini menjalani persidangan di PN Jaktim.

“Dia tidak menjalankan amanah. Saya yang punya ya toko seluler di Jakarta ada 3 cabang. Dia dibawah saya dia beri instruksi ke bawahannya untuk transfer uang yang saya laporkan Rp 230 juta,” kata saksi Deni diruang sidang, Senin (1/10/2018).

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Dikatakan, oleh saksi Deni tahun 2016 terdakwa Abdurahman ditunjuk oleh pemilik Toko Madina Reload di Jalan Dr. KRT Radjiman, Cakung, Jaktim untuk memimpin usaha penjualan pulsa diberapa cabang konter pulsa di Jakarta.

“Tadinya ada 8 orang sekarang ada 5 orang. Dicabang tersebut dia (jalan KRT Radjiman, Cakung). Dia akunting sekaligus auditor 4 cabang di Buaran, Cipinang, Duren Sawit dan Radjiman,” jelas saksi pemilik toko pulsa.

Dihadapan Majelis Hakim PN Jaktim, saksi Deni beberkan laporan keuangan terdakwa di cabang konter pulsa jalan Radjiman tidak sesuai. Bahkan, Bos konter pulsa mendapat laporan dari kepala toko bahwa Abdurahman kerap mentransfer uang ke rekening Opan.

“Di meeting dia beri laporan menggembirakan. Staff melapor saya survei langsung saya lihat kenapa stok saya menurun sehingga saya cek kepala toko (Supriyadi), dia bilang setiap bulan diminta transfer ke rekening atas nama Opan ke istrinya kata pak Abdurahman untuk pelunasan toko ini di Radjiman,” jelas saksi.

Persidangan dipimpin langsung oleh Ketua Majelis Hakim Tarigan Muda Limbong, SH. Kemudian, mempertanyakan waktu kejadian proses transaksi perpindahan uang melalui bank dengan alasan untuk melakukan pembayaran sewa ruko.

“Kapan kejadian, mulai kapan kata Supriyadi ditransfer,” tanya ketua majelis hakim.

“Detailnya saya kurang tahu. Januari 2018. Saat ini yang saya lapor kan 230 juta atas nama Opan saya tidak pernah menginstruksikan itu. Ruko itu saya sewa 4 tahun kedepan,” jawab saksi.

Selain itu, terdakwa menjelaskan kepada Majelis Hakim perihal dirinya seperti yang diutarakan saksi sebagai akunting dan auditor tidak pernah ada perjanjian sebagai karyawan di Toko Madina Reload. Akan tetapi, hanya bekerja sebatas freelance dan terkait pinjaman uang telah dilunasi melalui pemotongan gaji senilai Rp 1,5 juta sampai Rp 2 juta rupiah.

Tahun 2017 saya tidak pernah ada pengangkatan sebagai karyawan. Bulan Desember punya usaha sendiri saya bilang minta freelance saja sampai bulan Juli. Terkait pinjaman sudah saya lunasin terkait potong gaji Rp 1,5 juta sampai Rp 2 juta sudah dilunasinya motong gaji itu. Bukti rekening di toko Rajiman ada bukti pembayaran tersebut,” jelas terdakwa Abdulrahman.

Namun, Majelis Hakim menganjurkan terdakwa bila memiliki bukti-bukti tentang administrasi keuangan dapat dilampirkan terkait pelunasan pinjaman.

“Kalau ada bukti silahkan diajukan. Kalau sudah dilunasi ajukan bukti,” saran Limbong.

Kasus hukum yang menjerat akunting dan auditor tersebut diancam dengan hukuman 4 tahun dan dikenakan Pasal 374 oleh penuntut umum dari Kejari Jaktim. Hal itu, disebutkan karena terdakwa telah melakukan penggelapan dan menggunakan uang senilai Rp 233 juta lebih.

“Sebetulnya dua-duanya pasal 378 dan 374 dimasukan tapi kita masukan salah satu yang terbukti. Ancaman sama 4 tahun, uang yang dipakai 233 juta koma sekian. Itu penggelapan jabatan kerena dapat gaji bekerja disitu,” ujar Ikhsan selaku JPU. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *