oleh

Umur yang Sesaat

TribunAsia.com

Jangan sia-siakan, walaupun hanya sesaat…

 

Banyak diantara kita yang masih sering mensia-siakan waktu yang kita miliki selama hidup di dunia ini, dengan melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat. Mungkin sebagian dari kita ada yang berpikir, nanti saja, kalau sudah menjelang tua baru memperbaiki ibadah kepada Allah. Biasanya orang menunda amal kebaikan karena lebih mengutamakan dunia dan tidak mementingkan akhirat. Karena kesibukan segala aktifitas urusan dunia, seseorang jadi sering menunda-nunda kewajiban amal ibadah atau amal kebaikan.

 

Allah berfirman:

وَالْعَصْرِ * إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ * إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa.

Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,

Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”(Al-Ashr: 1-3)

 

Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengajarkan sebuah doa yang maknanya bagaimana kita harus selalu menyandarkan diri kepada Allah, memohon bantuan-Nya dan tidak mengandalkan diri serta selalu memanfaatkan kesempatan walau hanya tinggal sesaat;

 

يا حي يا قيوم برحمتك أستغيث ، أصلح لي شأني كله ، ولا تكلني إلى نفسي طرفة عين

Ya Hayyu, Ya Qoyyum dengan rohmat-Mu aku meminta pertolongan, perbaikilah semua urusanku,

Maka janganlah Engkau serahkan diriku kepada diriku sendiri, walaupun hanya sekejap mata”. (HR. An-Nasai di Sunan Al-Kubro (6/147) dihasankan Al-Albany dalam Silsilah Ash-Shohihah, 227)

 

Allah mengingatkan kita tentang pentingnya umur, bahwa umur adalah anugerah yang Allah berikan kepada manusia sejak awal penciptaannya.

 

ۚوَمَا يُعَمَّرُ مِنْ مُعَمَّرٍ وَلَا يُنْقَصُ مِنْ عُمُرِهِ إِلَّا فِي كِتَابٍ ۚإِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى الَّهِ يَسِيرٌ

“Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah.”(Fathir: 11)

 

Dan mengisi umur dengan kebaikan itu sampai detik akhirnya.

Karena banyak orang yang lalai di masa sesaat ketika sudah menjelang akhirnya.

Padahal, seorang muslim tidak boleh lalai ataupun putus asa dihari-hari akhirnya sampai nyata-nyata berhenti.

Karena justru akhir itulah yang menentukan amalnya.

الأعمال بالخواتم

Amalan-amalan itu ditentukan pada akhir penutupannya.

 

Bahkan sampai sudah mendengar kiamat terjadipun kita tidak boleh meninggalkan berbuat baik.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :

“JIka kiamat terjadi dan salah seorang di antara kalian memegang bibit pohon kurma, lalu ia mampu menanamnya sebelum bangkit berdiri, hendakalah ia bergegas menanamnya.” (HR Al-Bukhory dari Al-Adabul Mufrod, 479 dishohihkan Al-Albany)

Didalam riwayat yang lain,

“Tanamlah bibit pohon yang ada di tangan mu sekarang juga, meski besok kiamat. Allah akan tetap memperhitungkan pahalanya.” (Silsilah Ash-Shohihah)

 

Abdullah bin Salam pernah berpesan kepada Daud bin Abi Daud Al-Anshari,

“Jika engkau mendengar Dajjal telah keluar pada saat engkau tengah bercocok tanam, janganlah engkau tergesa-tergesa pergi. Tetaplah menanam dan mengurus tanamanmu, karena toh setelah Dajjal keluar pun manusia tetap hidup”(HR As-Suyuthi dalam Jami’ul Kabir dishihihkan Al-Albany)

 

Imam Al-Ghazali berkata, “Kesempatan waktu adalah kehidupan. Karena itu, Islam menjadikan kepiawaian dalam memanfaatkan waktu termasuk di antara indikasi keimanan dan tanda-tanda ketakwaan. Orang yang mengetahui dan menyadari akan pentingnya kesempatan berarti memahami pula nilai hidup dan kebahagiaan.

Membiarkan kesempatan terbuang sia-sia merupakan salah satu tanda tidak memahami pentingnya kesempatan, padahal ia tidak pernah datang untuk kedua kalinya atau tidak pernah terulang. Dalam pepatah Arab disebutkan ”Tidak akan kembali hari-hari yang telah lampau.”(Khuluqul muslim, Imam Al-Ghozali)

 

Jangan sampai kita menyesal dengan umur yang telah Allah berikan.

Sebagaimana penyesalan  orang-orang kafir di neraka.

 

وَالَّذِينَ كَفَرُوا لَهُمْ نَارُ جَهَنَّمَ لَا يُقْضَىٰ عَلَيْهِمْ فَيَمُوتُوا وَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُمْ مِنْ عَذَابِهَا ۚكَذَٰلِكَ نَجْزِي كُلَّ كَفُورٍ

وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ ۚأَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ ۖفَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ

“Dan orang-orang kafir bagi mereka neraka Jahannam. Mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati dan tidak (pula) diringankan dari mereka azabnya. Demikianlah kami membalas setiap orang yang sangat kafir.

Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan”. Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.”(Fathir : 36-37)

 

Fudhail bin Iyadh pernah berjumpa seorang lelaki yang sudah tua lalu bertanya kepadanya : Berapa usiamu?

Orang itu menjawab : 60 tahun.

Lalu Fudhail berkata : Berarti selama 60 tahun engkau telah berjalan menuju Rabb-mu dan saat ini engkau hampir sampai kepada-Nya.

Maka laki laki itu berkata:

إنا لله وإنا إليه راجعون.

Kemudian Fudhail bertanya kepadanya : Tahukah engkau tafsir dari apa yang engkau ucapkan itu ?.

Laki laki itu berkata : Tafsirkanlah ucapan itu untukku, wahai Abu Ali.

Fudhail berkata:

Pertama : Barangsiapa yang mengetahui bahwa ia adalah hamba Allah dan akan kembali kepada-Nya  maka hendaklah ia mengetahui bahwa kelak ia akan disuruh berdiri dihadapan Rabb-nya.

Kedua : Barangsiapa yang mengetahui bahwa ia akan disuruh berdiri dihadapan  Rabb-nya maka hendaklah dia mengetahui bahwa dia pasti akan ditanya.

Ketiga : Barangsiapa yang mengetahui bahwa ia akan ditanya maka hendaklah ia mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan itu.

Selanjutnya laki laki itu berkata : Lalu bagaimana jalan keluarnya ?

Jalan keluarnya mudah kata Fudhail.

Orang itu bertanya lagi : Apakah itu wahai Abu Ali?

Fudhail menjawab : Hendaklah engkau berbuat kebaikan disisa umurmu. Niscaya Allah akan mengampuni dosa apa yang telah lalu atas dirimu. Sesungguhnya jika engkau tetap berbuat keburukan pada sisa umurmu niscaya engkau akan dihisab atas semua perbuatan burukmu yang telah lalu dan yang akan datang. (Jami’ul Ulum walhikam, Ibnu Rojab)

Wallohu a’lam.

 

Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *