oleh

Dahnil Anzhar : Jika Buni Yani Divonis Salah Pasti Dipenjara. Tidak Ada Hubungannya dengan Prabowo Sandi

Jakarta, tribunasia.com – Koordinator Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN), Dahnil Anzhar menanggapi pernyataan Buni Yani yang menyebut jika Prabowo-Sandiaga menjadi pasangan capres dan cawapres kasus hukum yang menjeratnya tidak akan berlanjut.

Menurut Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Pemuda Muhammadiyah tersebut, siapapun yang melanggar hukum ketika Prabowo menjadi presiden tetap diproses sesuai aturan yang berlaku tanpa pandang bulu.

“Siapa pun kalau bersalah dan melanggar hukum bila Pak Prabowo dan Sandi menjadi Presiden akan dihukum,” kata Dahnil kepada poskotanews.com, Senin (24/9) .

Ditegaskan Dahnil, sudah menjadi komitmen Prabowo-Sandi menegakkan hukum se-adil-adilnya. “Komitmen beliau berdua adalah memastikan hukum yang adil dan berkeadilan, bukan mengendalikan hukum untuk kepentingan politik,” ungkap dia.

Seperti diketahui, nama Buni Yani mencuat setelah memposting video pidato mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Kepulauan Seribu yang dianggap bermuatan SARA.

Atas video itu dia divonis 1,5 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Bandung karena dianggap melanggar Undang-undang Infirmasi dan Transaksi Elektronik (ITE) pada sidang, Selasa (14/11/2017) karena merubah caption video.

Mengenai latar belakang Buni Yani yang tersangkut kasus hukum dan justru dimasukkan sebagai tim medsos Badan Pemenangan Nasional, Dahnil tidak mempermasalahkan.

“Buni Yani punya latarbelakang akademik yang baik, dan tentu dia punya kapasitas, terkait dengan konten dan sebagainya tentu bukan kerja Buni Yani saja, tapi kerja tim, nah Mas Buni Yani menjadi salah satu dari banyak tim medsos, dan badan pemenang nasional tentu berharap kontribusi konstruktif dari dia,” tandas dia.

Sebelumnya, Buni Yani membuat pernyataan bahwa dirinya akan memperjuangkan kemenangan Prabowo-Sandiaga agar tidak dipenjara.

“Pak Prabowo harus menang, kalau nggak nanti saya masuk penjara 1,5 tahun. Justru itu yang saya lawan. Jadi ini harus dilawan ini rezim kalau dia zalim kepada masyarakatnya sendiri. Begitu,” kata Buni di gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (24/9/2018).

Untuk itu, dia terpaksa bergabung dengan Prabowo-Sandi sebagai upaya melawan pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) karena menganggap telah dikriminalisasi.

“Karena saya ini korban kriminalisasi, memperkuat tim Pak Prabowo untuk mengatakan bahwa tim ini adalah tim yang berjuang untuk demokrasi dan keadilan. Pihak sana sih pastingomongnya yang jelek-jelek. Anda kalau dengar ‘cebong’ sih begitu ngomongnya. Jadi jangan dengar, mereka buzzer gitu lho,” tandas dia. (GN)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *