oleh

Transaksi Pembayaran Besi 400 Ton Tidak Berjalan Mulus, Dirut Menjadi Terdakwa Dipengadilan

Jakarta, TribunAsia.com – Transaksi pembayaran besi seberat 400 ton tidak berjalan mulus, Susanyi Kurniadi wanita muda yang menjabat sebagai Direktur Utama pada PT Kurnia Multi Perkasa menjadi terdakwa di kursi Pengadilan Negeri Jakarta Timur.

Kendala proses pembayaran melalui cek membuat terdakwa Susanyi berujung ke ranah hukum karena pelunasan pembayaran senilai Rp 2 miliar tak kunjung selesai.

Menurut Susanyi, PT Karunia Multi Perkasa dirikan mulai tahun 2007 yang bergerak di bidang penjualan besi pipa akan tetapi untuk harga dalam setiap kilo gram berkisar senilai Rp 8 Ribu.

“PT Karunia Multi Perkasa didirikan tahun 2007 jual beli besi pipa ,” kata terdakwa yang menjabat Dirut, Kamis (20/9/2018).

Kemudian, dijelaskan dihadapan Majelis Hakim transaksi besi seberat 400 Ton melalui salah seorang yang disebutkan bernama Herman dan pernah meeting bersama di Senayan City, Jaksel untuk membahas proyek terkait besi tersebut.

“Saya bicarakan jual beli putus aja sekitar 100 ton ya. Saya kirim via faks. Tapi saya ada fasilitas sekitar 700 ton. Jadi saya bilang kan saya tempo karena saya pikir teman saya. Cek itu cek tempo ya ada yang 1 Minggu, 1 bulan,” ucapnya.

“Pertemuan di Senayan City mereka mengungkapkan hari itu juga. Saya Dirut saya bisa minta ke Bank My Bank. Ke mereka berlima ke Herman, Sofyan Debora yang lain saya lupa,” jelas terdakwa Susanyi.

Sementara itu, Ketua Majelis Hakim yang dipimpin oleh Ida Ayu,SH turut mempertanyakan terkait penandatanganan didalam BAP dari penyidik kepolisian yang disangkal oleh terdakwa bagian isi yang terdapat di BAP ada yang tidak sesuai.

“Waktu itu ada paksaan atau dibawah tekanan kenapa saudara tanda tangan. Kenapa anda ACC tanda tangan. Kalau saya nggak berbuat apa-apa meski disundut rokok saya nggak mau tanda tangan. Semua keterangan dipenyidik itu semua bukti,” ujar majelis hakim.

“Tidak semuanya benar,” jawab terdakwa.

Lanjut, Majelis Hakim terkait posisi Herman turut dipertanyakan kepada terdakwa.

“Herman posisi sebagai apa nih,” tanya kembali majelis hakim.

Marketing Manager,” balas terdakwa.

“400 Ton itu besi ya seharga berapa ?,” tanya majelis lagi.

“Harga Rp 8 ribu, sekitar 3,8,” kata terdakwa.

“Bulan apa saudara dilaporkan,” tanya hakim.

“Bulan September,” balas terdakwa.

Selain itu, penuntut umum turut mempertanyakan terdakwa Susanyi Kurnia tentang percakapan perihal proyek kepada Herman serta penerbitan purchase order (PO).

“Saudara apa yg saudara ceritakan kepada Herman apa. Apakah saudara bicarakan proyek. Ada penunjukkan video ya. Saudara menerbitkan PO ya,” tanya Handri,SH didampingi oleh Nanindya,SH selaku JPU.

Kemudian, Handri pun melempar pertanyaan kembali kepada terdakwa yang saat itu menjabat Dirut tentang bukti alat pembayaran melalui cek yang telah dibubuhi tanda tangan yang sah.

“Apakah cek ada 2 tanda tangan. Jadi, total yang sudah dibayarkan melalui cek berapa,” tanya penuntut umum kembali.

Sambung JPU lagi, nominal penjualan besi seberat 400 Ton terhadap salah seorang yang bernama Sofyan dipertanyakan diruang sidang.

“400 ton dijual ke Sofyan berapa,” tanya Handri.

“2 miliar,” jawab terdakwa.

Kembali dipertanyakan lagi oleh Majelis Hakim PN Jaktim barang-barang jenis besi keberadaan barang tersebut yang berjumlah 400 Ton yang saat ini bermasalah.

“400 ton itu kemana,” tanya majelis kepada terdakwa.

“Ke Sofyan saya titipan ke teman saya. Walaupun rugi saya akan membayarnya yang mulia,” jelas terdakwa dengan mata berkaca-kaca.

“Kenapa saudara tidak mengembalikan barangnya itu ditempat Sofyan Bekasi,” sahut majelis.

“Mohon maaf yang mulia supplier tidak mau dikembalikan,” jelas terdakwa. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *