oleh

Utang Luar Negeri BUMN yang Meningkat

TribunAsia.com

Oleh : Awalil Rizky

banner 336x280

Bank Indonesia kemaren mengumumkan bahwa utang luar negeri Indonesia (ULN) pada akhir Juli 2018 tumbuh melambat. Maksudnya bukan berarti sisa utang atau posisi nya berkurang, melainkan tambahannya yang berkurang dibanding tambahan bulan lalu. ULN Indonesia pada akhir Juli 2018 tercatat sebesar 357,98 miliar dolar AS, sedangkan pada akhir Juni 2018 sebesar 355,94 miliar dolar AS.

Melambatnya pertumbuhan tersebut terutama disebabkan oleh ULN sektor pemerintah yang tumbuh lebih rendah dibandingkan dengan periode sebelumnya. Sedangkan ULN swasta justeru kembali bertambah, setelah sempat sedikit menurun pada bulan lalu.

Perkembangan ULN merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi Neraca Pembayaran Indonesia (NPI), dan pada waktu berikutnya berdampak pula pada Transaksi Berjalan. ULN yang diperoleh pemerintah atau swasta pada suatu tahun akan membawa masuk devisa, yang tercatat dalam Transaksi Finansial pada NPI. Akan tetapi pada saat harus dilakukan pelunasan atau pembayaran cicilan akan tercatat pula sebagai arus ke luar. Pengaruh lain adalah pada saat pembayaran bunga utang yang tercatat dalam transaksi berjalan.

Tentu dapat diperdebatkan “hasil bersih” dari ULN jika dikaitkan dengan apakah utang itu berhasil meningkatkan ekpor. Jika dipakai untuk sektor produksi yang menghasilkan barang atau jasa yang menambah nilai ekspor atau masuknya devisa, maka nantinya akan berdampak positif pada Transaksi Berjalan. Namun akibat yang bersifat segera dan pasti adalah yang disebut terdahulu. Otoritas ekonomi menyadari hal ini dan mengatakan terus mengawasi perkembangannya.

ULN Pemerintah langsung bisa dikontrol melalui kebijakan penyusunan dan realisasi APBN. Pemerintah dapat mengatur pencairan pinjaman dan penerbitan surat utang (SBN). Sedangkan ULN swasta tak bisa dikendalikan secara langsung, melainkan dipengaruhi melalui berbagai kebijakan. Disadari bahwa Indonesia telah berpengalaman buruk di masa lampau mengenai ULN swasta yang tak terkontrol, yang menjadi salah satu faktor dalam krisis 1997/1998.

ULN swasta setelah krisis memang tumbuh melambat, bahkan sempat berkurang drastis selama beberapa tahun. Kemudian tumbuh kembali dengan cepat dan melampaui utang pemerintah lagi sejak tahun 2012. Kini lajunya memang sedikit melambat sehingga posisinya pada akhir Juli 2018 tercatat sebesar 177,15 miliar USD, hampir sama dengan ULN Pemerintah sebesar 177,40 miliar USD.

Salah satu yang dicatat sebagai ULN swasta adalah ULN Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Posisinya cenderung meningkat selama 10 tahun terakhir. Peningkatan signifikan terjadi sejak tahun 2011, dan posisi pada akhir Juli 2018 adalah sebesar 35,03 miliar USD. Terlepas dari kebutuhan dan manfaatnya, ULN BUMN kemudian ikut memberi tekanan pada Transaksi Berjalan dan Neraca Pembayaran Indonesia, karena harus membayar bunga dan cicilan.

Dilihat dari porsinya, ULN BUMN kini mencapai 19,78% dari total ULN swasta. Porsinya meningkat signifikan dibandingkan dengan kondisi pada akhir tahun 2007 yang masih 6.51% dan akhir tahun 2010 sebesar 10,19%.

Dilihat dari denominasi, porsi dolar Amerika amat dominan, mencapai 90,40% dari total ULN swasta. Porsinya mengalami peningkatan dibanding tahun 2007 (85,91%) dan tahun 2012 (87,43%). Dari aspek ini, pengaruh kurs rupiah atas dolar makin membesar terhadap beban cicilan dan pembayaran bunga utang.

Dilihat dari jangka waktu peminjaman, porsi ULN swasta yang berjangka panjang memang masih jauh lebih besar dibanding yang berjangka pendek. Disebut berjangka pendek adalah utang yang jatuh temponya kurang dari atau sama dengan setahun, yang pada akhir Juli 2018 sebesar 26,37%. Porsinya memang cenderung stabil selama sepuluh tahun terakhir. Namun, porsi itu cukup memberatkan jika kondisi ekonomi memburuk mendadak. Terutama jika depresiasi rupiah cukup signifikan, sementara korporasi swasta tersebut tidak memproduksi barang atau jasa yang diekspor.

Secara umum, kondisi terkini dari ULN swasta memang masih jauh lebih baik dibandingkan tahun 1997/1998. Masih terlihat aman jika dilihat dari besarnya cadangan devisa, dari kinerja NPI, dan bahkan dari tekanan atas Transaksi Berjalan yang tengah terjadi. Namun, otoritas ekonomi musti makin waspada, mengingat kondisi global yang masih mungkin akan menyulitkan di waktu mendatang, bahkan dalam waktu dekat.

Perlu dicatat bahwa ulasan tulisan ini bersifat umum, hanya melihat data-data keseluruhan dan pengelompokan oleh Bank Indonesia. Masalah bisa saja timbul dari korporasi swasta secara individual ataupun suatu industri. Terlebih pada beberapa BUMN yang memiliki ULN dalam denominasi dolar Amerika, namun produksinya dijual dalam rupiah di pasar domestik. Padahal, kebanyakan BUMN berkondisi demikian. Meskipun kemungkinan secara teknis telah ada antisipasi melalui hedging, tetap akan menambah beban biaya dalam BUMN yang demikian, serta dapat memperburuk kondisi keuangannya.

Dinamika perekonomian terkini makin mengingatkan otoritas ekonomi agar meningkatkan pengawasan atas soalan ULN swasta, terutama ULN BUMN. Untuk ULN BUMN, tak cukup sekadar pengawasan, melainkan juga pengaturan yang lebih ketat.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *