oleh

Anies ; Membangun Peradaban di Jalan Raya

TribunAsia.com

Oleh : Abd. Malik R.

Kejaksaan Negeri Jakarta Timur - ZONA INTEGRITAS (Wilayah Bebas Korupsi)

 

Bagi Anda yang pernah ke Jakarta atau tinggal di Jakarta pasti pernah merasakan ruet dan kerasnya kehidupan di Jalanan Jakarta. Jakarta memang kota megapolitan urutan ke 9 kota terpadat di dunia, menurut World Economic Forum, Rabu 24 Mei 2017. Macet, ugal-ugalan sopir kedaraan umum, keseringan menabrak jalur, berkendara di atas trotoar, hampir menjadi pemandangan keseharian di jalanan Ibu Kota. Fasilitas memadai, jalanan yang layak, sampai dengan kepatuhan pengguna terhadap norma, etika dan aturan ada di jalan raya. Tantangan terberat adalah membangun peradaban di jalan raya.

Jalan raya dan peradaban manusia bagian dari kisah purba umat manusia, sejak manusia mengenal tradisi nomaden sejak itu pula jalanan menjadi hal penting yang ditandai oleh manusia. Kita pernah mendengar istilah, “banyak jalan menuju Roma” rupanya istilah itu bukan istilah para motivator kosong tanpa jejak sejarah. Pakar inskripsi kuno bernama Romolo A. Staccioli, menemukan bahwa Pada zaman dahulu, jalan-jalan Romawi dianggap sebagai monument. jalan-jalan itu telah memungkinkan lalu lintas ”penyebaran gagasan, pengaruh seni, dan doktrin filsafat maupun agama”, termasuk yang berasal dari Kekristenan. Selama berabad-abad Roma membangun jalan sebagai monument peradabannya lebih dari 80.000. kilometer di daerah yang kini membentang lebih 30 negara Eropa. Bangsa Roma kala itu menyebut Jalan Raya dengan sebutan Via Publica. Jalan-jalan yang besar dan sangat terkenal kala itu diantaranya Via Appia, Via Salaria, Via Flaminia, Via Aurelia, dan Via Ostiensis, seluruh jalan-jalan itu menghubungkan Roma dengan dunia luar.

Dewasa ini jalan raya lebih dari sekedar etalase ruang terbuka. Ia adalah ruang publik dimana Negara hadir dan membentuk peradaban. Negara hadir menyediakan jalan raya yang tidak hanya nyaman tetapi juga menjamin keselamatan dan yang juga penting jalan raya dapat menjadi ruang estetika, ruang budaya, ruang interaksi, dimana para pejalan kaki dapat berjalan sambil berinteraksi. Di jalan raya etika dan norma setiap pengguna dapat ditegakan.

The Global Status Report on Road Safety menempatkan Indonesia di peringkat 3 setelah Tiongkok dan India sebagai negara dengan tingkat kematian tertinggi akibat kecelakaan lalu lintas, yakni 38.279 kematian pada 2015. Statistik itu memberi gambaran bahwa jalan raya seolah telah menjadi ladang kematian bagi para penggunanya. Khusus di wilayah Jakarta, pada periode 2015, kecelakaan terjadi hingga 6.346 kali. Dampaknya, 588 jiwa meninggal dunia dengan kerugian materi sekitar Rp18,83 miliar. Hal ini terjadi jalan raya tidak mencerminkan keadaban suatu bangsa.

Di Ibu Kota, Jakarta kita kerap melihat bagaimana pengguna jalan raya kerap melanggar norma dan aturan tersebut, misalnya pengandara angkot atau metromini yang nekat melewati jalur trans buswey, pengendara motor yang naik ke badan trotoar jalan, metro mini yang menabrak jalur juga pejalan kaki yang kerap menyebrang bukan pada tempatnya.

Data di atas menunjukan sampai dengan tahun 2015 tingkat kesadaran menegakan peradaban di jalan raya masih sangat minim. Sering terjadinya kecelakaan lalu lintas dan berujung kematian penyebabnya dapat bersifat kompleks. Tidak hanya menyediakan jalanan yang nyaman dan aman tetapi pengguna jalan raya pun baik pengendara atau pejalan kaki harus berani menegakan aturan di jalan raya.

 

Anies, Menata Peradaban Jalanan Ibu Kota.

Setahun dilantik menjadi Gubernur DKI Jakarta sejak 16 Oktober 2017 Anies R. Baswedan terus bekerja. Pilkada yang menguras energy sosial membuat pasca dilantik Anies yang bekerja kerap tidak lepas dari pebullyan juga kritikan. Tetapi karena mental Anies yang sudah banyak makan garam dan dunia gerakan, Gubernur Jakarta yang satu ini tetap fokus bekerja tanpa terlalu mau disibukan dengan hiruk-pikuk dunia medsos.

Anies orang yang selalu mengedepankan akal sehat serta perencanaan yang matang sebelum sebuah proyek pembangunan dijalankan. Seluruh aspek pasti dilihatnya, ekositim, sosial-budaya, ekonomi, manfaat, pendidikan dan juga estetika, dari sebuah proyek pembangunan pasti diperhatikannya. “Kita dalam bekerja nggak cukup hanya kerja, kerja, kerja saja. Nggak cukup. Harus ada gagasan dulu. Dari gagasan, lalu ada kata-kata, harus ada narasi. Karena, kalau ada gagasan tanpa ada narasi, dia akan di awang-awang. Indonesia dengan segala keramaiannya itu peaceful, tapi itu tidak terjadi sekarang saja, fondasinya dibangun dulu. Di Gedung Joang, para pendiri berdiskusi membahas Piagam Jakarta, cikal bakal Pancasila. Itu semua adalah akumulasi konsep dan gagasan. Mereka (pendiri bangsa) yang highly educated datang dari aristokrat. Membuat negara yang tidak privilese buat aristokrat”, kata Anies dalam sambutannya pada Rakornas Perkumpulan Ahli dan Dosen Republik Indonesia di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat.

Hiruk pikuk media sosial yang nyinyir dengan gagas Anies kerap berakhir tragis bagi penyinyir sendiri. Pasannya hanya satu, jangankan dalam bekerja yang wajib didahului dengan perencanaan yang matang, nyinyir pun jika tidak dipikir baik-baik justru berakibat buruk bagi penyinyir sendiri. Sebagai contoh gagasan Anies menata Jalan Raya H.M. Thamrin sampai Jalan Raya Soedirman teramat banyak nyinyir dan pembullyan terhadap Anies yang salah alamat dan berakhir buruk bagi penyinyir. Dari pembongkaran trotoar yang dinilai Anies terlalu sempit dan tidak nyaman bagi pejalan kaki, pemberian izin sepeda motor melewati seluruh jalanan di Jakarta termasuk Jalan MH. Thamrin dan Jalan Soedirman, pencabutan pohon di Jalan Soedirman, pemasangan ornament pohon plastik saat tahun baru, pembongkaran Jembantan Penyebrangan Orang di Bundaran Hotel Indonesia, trotoar dan pelican crossing bagi pejalan kaki dan lain-lain.

Anies membenah Jalan MH.Thamrin dan Jalan Soedirman hanya dalam waktu dua bulan. Kerjar tayang siang dan malam ini Anies lakukan untuk menyambut tamu Negara peserta Asian Games 2018 dimana Jakarta dan Palembang adalah tuan rumahnya. Masyarakat melihat dan merasakan keberpihakan itu. Pada acara Alvin and Friends yang disiarkan oleh iNews Gubernur DKI Jakarta, Anies R. Baswedan yang diwawancarai Alvin berjalan melintasi kawasan Jalan MH. Thamrin dan Jalan Soedirman. Viral acara ini pada laman yaotube https://www.youtube.com/watch?v=j1X0qtvII4k yang diunduh pada 21 Agustus 2018 pada 06 September 2018 ditonton 866.579 orang dan 8,563 komentar.

Beberapa komentar nitizen diantaranya, “Gubernur Jakarta sekarang seorang pendidik jadi akan mendidik warganya untuk tertib taat aturan. Terima kasih Pak Anies Baswedan”, komentar akun, riki aristo. “Cocok yang dikatakan Pak Anies, tinggal Pengendara aja yang nyadar diri, gimana mau maju Bangsa ini..kalau aturan aja ngak bisa di taati… Maju Trus Pak Anies”. Komentar dari akun Aman Young. “Merubah mindset seseorang untuk berprilaku TERTIB didasari harus punya rasa MALU. 1. MALU Nerobos lampu merah 2. MALU Melewati garis pembatas pemberhentian 3. MALU Buang sampah sembarangan 4. MALU Tidak mengantri 5. MALU Tidak berprilaku sopan terhadap pengendara lain maupun pejalan kaki”. Komentar lain dari akun, efek rumah kaca.

Dalam acara Alvin and Friends berdurasi 15.55 menit Anies dan Alvin banyak bercerita tentang kewajiban pemerintah menyediakan fasilitas jalanan yang aman dan nyaman serta bagaimana membangun kesadaran masyarakat berlalu lintas di jalan raya. Anise menyebut, “Perempatan 100% menggunakan sebra croos, ketika orang menyebrang tidak menggunakan JPO, yang harus kita latih adalah pengemudi motor dan mobil saat ada orang menyebrang. Bagi penyandang distabilitas sangat membantu sekali. Ini yang harus kita tumbuhkan kesadaran bahwa jalan adalah miliki bersama, jalan bukan milik mereka yang menggunakan kendaraan bermotor saja. Dan bagi anak2, bagi pejalan kaki, harus menjadi perioritas”.

Ketika Alvin bertanya Bagaimana merubah mindset, pengguna jalan raya untuk taat aturan ? Anies menjawab, “harus ada proses pembiasaan, kemudian sesudah pembiasaan, ada yang terbiasa, ada yang masih harus didisiplinkan, disitu kemudian ada penegakan aturan, yang melanggar dapat sanksi, dan orang kalau sudah terima sanksi maka baru belajar dia, itu bagian dari pembiasaan”.

Anies menginginkan interaksi, salam dan sapa warga dapat terjadi di jalan raya, “Trotoar disini kita buat lebarnya jadi enam sampai delapan meter. Jadi ini menjadi sebagai the home of pedestrian, masyarakat Indonesia tinggal di daerah tropis harusnya kegiatan kita harus banyak di ruang terbuka, tapi kita tidak mempersiapkan fasilitasnya maka mereka tidak akan jalan di luar, kita ini kecenderungannya turun gedung naik mobil, turun gedung naik motor, terus pergi, nah sekarang kita buka seperti ini, dan harapanya nanti interaksi antar warga meningkat”.

Terdapat dua hal yang dapat menjamin keselamatn berlalu lintas, “jadi ada dua sevety dan security, keselamatan kita siapkan petugas, petugas bertugas 24 jam, untuk memastikan keselamatan penyebrangan jalan dan juga membiasakan bagi pengendara berhenti. Ini bagian dari pelatihan. Kemudian yang kedua soal security, dalam hal security pihak kepolisian dan TNI sangat membantu”.

Sekarang Jalan MH. Thamrin dan Jalan Soedirman sampai Blok M tampak cantik, pedestrian yang luas dan nyaman serta aman membuat warga kini lebih memilih berjalan kaki dari deretan gedung, ke stasiun atau halte busway. Juga keselamatan, dan kemudahan akses, digantinya jembatan penyebrangan orang dengan pelican scorssing membuat penyebrangan kini lebih mudah terutama sekali bagi Ibu hamil, lansia dan penyandang distabilitas.

Pada beberapa titik pedestrian Jalan MH. Thamrin dan Jalan Soedirman juga difasilitasi ruang ekspresi seni bagi para seniman. Mislanya pada Bundaran Hotel Indonesia, juga pada tepi timur Jalan Soedirman seni Bambu Bunga Matahari karya senimana Joko Avianto dan disediakan juga ruang bagi musik jalanan Ibu Kota. Tidak hanya estetika, Anies juga mengajarkan kita warga Jakarta untuk patuh terhadap aturan berlalu lintas, peradaban bukan hanya estetika tetapi juga ketatan terhadap aturan, seperti kata Romolo A. Staccioli, di Jalan Raya, penyebaran gagasan, pengaruh seni, dan doktrin filsafat maupun agama dapat terjadi.

 

 

Daftar Bacaan ;

https://news.detik.com/berita/4185078/anies-baswedan-kerja-kerja-kerja-saja-tak-cukup/komentar

https://wol.jw.org/id/wol/d/r25/lp-in/2006764

http://mediaindonesia.com/spektrums/detail_spektrums/51-jalan-raya-memantulkan-peradaban

https://www.viva.co.id/berita/bisnis/918750-jakarta-masuk-rangking-9-kota-terpadat-di-dunia

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *