oleh

Mempersekusi Dakwah, Akhirnya Mati Mengenaskan

TribunAsia.com

Oleh : Ustadz Faishal HS

banner 336x280

 

Aktifitas dakwah dan para pengembannya dalam setiap masa dalam bentangan sejarah selalu bersinggungan dengan para pendengki, pembenci kalimatulloh. Demikian pula saat ini, di tengah ramainya pihak-pihak dengan sengaja melakukan penghadangan pengajian, persekusi kepada penceramah-penceramah yang tak sejalan dengan afiliasi pilihan politik dengan kubunya.  Kondisi sekarang lebih tragis.

Pada masa Rasul, penghalang dakwah adalah orang-orang kafir. Namun di era zaman now, justru penghalangnya adalah sesama muslim. Seolah ia adalah pihak pemegang stempel utama, sehingga dengan leluasanya ia bebas menstigma  pihak yang tak sejalan dengannya sebagai pemecah belah persatuan umat, mengancam kebhinekaan, membawa ajaran yang tak sesuai budaya lokal, penebar radikalisme…

Rasul pun mengalami hal serupa. Tokoh tokoh Quraisy (Abu Jahal, Walid bin Mughirah, Abu Lahab (paman beliau sendiri) dan istrinya  Ummu Jamil) melemparkan tuduhan-tuduhan keji kepada Rasul.

Abu Lahab bin Abdul Muthalib adalah paman Rasulolloh SAW. dikisahkan di kitab siroh, dia orang yang paling gembira dengan kelahiran Rasululloh SAW.  Ketika mendapat kabar adik iparnya (Aminah) telah melahirkan bayi sehat dan kuat, Abu Lahab bergegas menyebarkan berita tersebut ke seantero Makah. Ia pun memerdekakan budaknya “Thuwaibah al Aslamiyah” (wanita bani Aslam) sebagai wujud rasa syukurnya, dan menyuruh Thuwaibah untuk menyusui nabi, sehingga kelak Thuwaibah kerab di sebut ibu oleh rasul dan seluruh anak-anak Thuwaibah menjadi saudara sepersusuan Rasululloh SAW.

Tidak berhenti disini,  Abu Lahab menyembelih beberapa ekor unta miliknya juga sebagai tanda kegembiraanya. Bahkan ketika kedua anaknya telah beranjak dewasa dan telah siap berumah tangga, ia menjodohkan 2 anaknya dengan 2 putri Rasul, Utbah bin Abu Lahab dinikahkan dengan Raqoyyah binti Muhammad SAW, dan Utaibah binti Abu Lahab dengan Ummu Kultsum binti Muhammad SAW.

Kegembiraan, kasih sayang, kedekatan kekerabatan bahkan hubungan kekeluargaan lenyap seketika, saat Rasululloh SAW memproklamirkan sebagai utusan Alloh sebagai pemimpin umat manusia, gagasan ideologi yang diemban rasul pasti akan menggantikan sistem hidup jahiliyah.

Abu lahab berdiri di barisan paling depan dengan melibatkan seluruh keluarganya, anak anaknya , istrinya dan siapapun dari tokoh tokoh quraisy sebagai penghadang dakwah rasul. Permusuhan, kedengkian dan kebencian benar-benar telah menyelimuti hidupnya, seolah sudah tak ada lagi rasa kasih sayang yang tesisa.

Abu Lahab mendatangi 2 anaknya yang baru menikah 3 tahun untuk menceraikan istrinya , peristiwa ini terjadi di tahun ke 3 kenabian Rasululloh SAW.

“Kepalaku dan kepala kalian haram bersentuhan jika kalian  berdua tidak menceraikan kedua putri Muhammad” demikian ancaman Abu Lahab kepada kedua anaknya.

Ummu Jamil ( Auraa’ binti Harb bin Umayyah) istri Abu Lahab tak kalah sengit perlakuannya kepada Rasul SAW. Saudara perempuan Abu Sufyan tersebut diwaktu malam sering memanggul kayu-kayu berduri diletakkan di tengah jalan yang sering dilalui rasul, suka mengadu-domba, memecah belah dan melakukan fitnah supaya orang-orang Makah menjauhi dan membenci Rasululloh SAW, sehingga ia di juluki pembawa  kayu bakar.

Abu Lahab termasuk orang yang menandatangani surat pemboikotan terhadap bani Hasyim (padahal ia juga dari Bani Hasyim), memutuskan hubungan/memboikot dalam hal makanan dan perdagangan hingga bani Hasyim rela menyerahkan Muhammad. Bahkan ia pernah menyewa Al ‘Asy  bin Hisyam untuk membunuh Rasululloh SAW dengan imbalan 4000 dirham, namun misi ini gagal.

Abu Lahab si pemersekusi Rasul akhirnya meninggal tahun 624 M saat mendengar kekalahan Quraisy  dalam perang badar. Penyakit kulit adas menghinggapinya. Seluruh tubuhnya bisul dan bernanah, berbau menjijikkan. Selama tiga hari tiga  malam mayatnya dibiarkan tak ada yang mengurusnya termasuk keluarganya sendiri.  Baru ketika bau busuk menyengat disiram air dari kejauhan dan akhirnya mayatnya ditimpuki dengan batu. Demikian pula istrinya pun mati mengenaskan.

Na’udzu billahi min dzalik.

 

Belum cukupkah balasan seperti ini sebagai pelajaran kita semua?

Ya Allah Ya Qowiyyu Ya matin, Ikfi Syarradzdzalimin

 

#MelawanAntiIslam

#BukanOrmasIslam

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *