oleh

Dunia di Balik Kata

TribunAsia.com

Oleh : Fanny J. Poyk

 

Siang ini saya membaca tulisan dari sebuah buku yang isinya demikian; Perseteruan antara nafsu alamiah dan idealisme sosial yang dialami manusia, menjadi hal yang sangat diperhitungkan oleh para penulis. Baiklah, saya tidak mau membedah tentang tulisan itu. Sebab saya hanya merasa, bahwa tulisan tersebut ada korelasinya dengan kisah yang akan saya tulis ini. Mungkin.

Alkisah, sesungguhnya pilihan untuk menjadi seniman, dalam hal ini penulis karya-karya sastra  bagi seorang lelaki bernama Gregory adalah pilihan yang cukup dilematis, ia sudah memiliki lima orang anak. Kelimanya sedang semangat-semangatnya makan, juga sedang membutuhkan biaya pendidikan yang tak sedikit.

Tapi di hati Gregory, dunia sastra melalui karya-karya filsafat yang dibacanya, semakin menggiringnya pada satu keputusan yang cukup absurd, berhenti dari pekerjaannya yang nyaman sebagai redaktur budaya di sebuah suratkabar bergengsi di kotanya.

Ia ingin total menjadi penulis. Keputusan ini tentu saja membuat sang isteri gundah, ia hanya ibu rumahtangga biasa yang tidak memiliki penghasilan tetap. Andai sang suami berhenti bekerja, bagaimana nasib mereka ke depannya? Tapi sudahlah, suaminya memiliki kemerdekaan untuk menentukan pilihan, kita lihat saja apa nanti yang akan terjadi, katanya dalam hati.

Maka bersama ego dan tumpulnya pemikiran tentang bagaimana nanti kehidupan keluarganya, Gregory memasuki dunia barunya sebagai penulis dengan optimisme yang luar biasa. Ia yakin kelak karya-karyanya mampu menembus media dan menghasilkan uang yang cukup untuk keluarganya.

Lalu, setelah keputusan diambil, otomatis berubahlah semua kehidupan yang awalnya cukup nyaman dengan gaji bulanan itu. Gregory mengepak semua barang yang ada menjadi satu kesatuan tunggal, ia dan keluarganya memilih pindah ke Bali, kemudian memulai hidup di sana total sebagai penulis bohemian a la Gipsy, berpindah dari satu kontrakan ke kontarkan lain.

“Keputusan yang nekat memang, tapi aku harus melakukannya, sebab jika tidak, dunia kerja membungkus imajinasiku dan aku akan terus menjadi budak kapitalis, tanpa pernah bisa menghasilkan karya. Aku selamanya, tak bisa lagi menuangkan ide-ide brilyanku dalam sebuah karya, karya yang monumental,” begitu alasannya, ketika ia dan beberapa rekan sesama seniman berdiskusi di teras rumah temannya, seorang pemain teater.

Teman berdiskusinya, seorang penyair yang telah beristeri tiga yang tinggal dalam satu rumah, memberi komentar positif tentang keputusannya. Katanya, “Itu keputusan yang bagus. Dengan begitu kita bisa mendidik anak-anak dan isteri kita menjadi sosok yang tangguh, kreatif dan spartan!”

Lalu temannya yang pemain teater menimpali, “Ide-ide kreatif kita tak bisa dibendung oleh kompromistis antara perut dan karya. Biarkan perut berjalan bersama pikiran, nanti dia akan menemukan jalannya sendiri. Kalau aku, puisi dapat membuat jiwaku kenyang, di dunia ini apa lagi yang lebih indah dari membuat puisi?” ujarnya sambil berteriak minta dibuatkan kopi pada isterinya.

Llalu tak lama isterinya menjawab, “Kopi pala lu, dari kemarin kan sudah kubilang kopi habis, gula tak ada, minum tu puisi!” Obrolan sejenak terhenti. Si pemain teater nyengir-nyengir seperti kuda. “Maaf isteri saya temperamental. Nanti juga dia akan buatkan kita kopi.”

Tak lama sahabatnya yang penulis skenario datang ke rumah si penyair, ia memperlihatkan setumpuk skenario film yang ditolak beberapa produser. Katanya, “Duh, aku bisa pinjem uang dulu tidak? Anak dan isteriku belum makan seharian.”

Sunyi. Hanya asap rokok yang mengepul di udara.

Pada akhirnya, keputusan untuk pindah menjadi penulis itu  tetap kokoh, ia tak menjadi semacam  bendungan yang  tegar menahan segenap resah dalam satu kubangan.  Gregory sang jurnalis sudah siap menerima resikonya, ia memutuskan berhenti bekerja sebagai wartawan. Total menjadi penulis. Kemudian ia bermetamorfosis seperti pujangga yang tergila-gila pada dunia barunya. Diskusi, membicarakan karya, tampil di tiap acara seni juga baca puisi, membuatnya lupa bahwa di rumahnya, mulai tercipta krisis moneter yang mengerat kebahagaian yang dulu pernah ia ciptakan.

Sang isteri mulai mencari pekerjaan, anak-anak terancam  dikeluarkan dari sekolah karena terlambat bayar uang SPP, mereka akhirnya menjadi kreator cilik dengan keterpaksaan yang tidak mereka inginkan. Mereka harus mengerahkan segala intuisi kreatif yang masih mandul, yaitu dengan mencari uang sepulang sekolah agar bisa membeli sepiring nasi dan buku-buku pelajaran, atau memberi ibu mereka uang supaya bisa bayar kontrakkan. Bertahun-tahun tak pernah ada lagi sepatu atau baju baru. Semua mengikuti alur kehidupan yang diciptakan sang ayah yang selalu berkata,  belajar hidup prihatin!

“Tak apa, itu cara terbaik untuk mendidik anak-anak agar mereka kelak menjadi manusia yang mandiri.” Kata Gregory dengan wajah datar kepada isterinya.

Sang isteri yang pada awalnya masih memendam suara dan mau berdamai dengan keadaan,  mulai memperlihatkan keaslian watak. Amarah dan putus asa berbaur, memuncak menjadi suara-suara makian yang mengeluarkan nama-nama kebun binatang. Lalu si penulis merefleksikannya dalam jawaban yang verbal. Ia ikut memaki isterinya, mengatakan kalau perempuan yang menjadi pendampingnya itu tidak bisa menerima pilihan hidupnya. Situasi ini kemudian berlangsung berpuluh-puluh tahun dan tak jarang disertai adu fisik. Seru!

“Persetan dengan teman-teman senimanmu itu. Hampir setiap hari kau dan mereka berdiskusi sampai pagi, tertawa terbahak-bahak, ngopi-ngopi, kau menyuruhku membuatkan nasi dan pisang goreng. Kau dan teman-temanmu itu pikir kalian siapa? Kalian tak lebih seniman sontoloyo tengik yang hanya mau melepaskan tanggungjawab dari beban yang kalian panggul. Lihat, temanmu yang beristeri tiga itu, kerjanya hanya ngoceh tentang teater, puisi dan karya-karya adi luhung, bikin anak, tapi tak pernah memberi makan anak-anak dan isterinya. Kau tahu dua dari isterinya menjadi kuli cuci dan babu. Babu!” teriak isterinya dengan suara tinggi.

“Tapi kau tidak pernah mengerti kalau suatu saat dia akan terkenal dan keluarganya akan merasakan hasil dari keterkenalannya itu. Sama seperti aku, mimpiku untuk menjadikan profesi menulis sebagai pilihan hidup, bukan  hanya sekedar mimpi. Nanti kau akan lihat efeknya. Kau dan anak-anak akan menerima hasil perjuanganku kelak, ingat itu!”

Hasil perjuangan? Memang itu yang beberapa puluh tahun kemudian Gregory dapatkan. Namun, kisah di balik perjuangan yang tak pernah diperkirakannya dengan matang, membuatnya harus terus berjibaku dengan kata dan kata. Mesin ketik manualnya berbunyi hampir setiap malam hingga pagi dan kembali malam.

Di tengah derunya imajinasi yang meluncur dari benak ke jemari lalu terukir menjadi jalinan kalimat, menyeruak emosi yang membuatnya mengeluh sendiri, “Ternyata aku telah menjadi budak kata-kata untuk mengisi perutku juga perut isteri dan anak-anakku yang lapar. Ya saat lapar aku menderita, namun setelah kenyang, harga diriku akan pulih kembali.” Ujarnya sendirian sembari mengisap sebatang rokok dan menghebuskan asapnya di ruang kerjanya yang penuh tumpukan buku.

Imajinasi, idealisme dan buku-buku filsafat yang dibacanya, menggiring sang jurnalis yang telah bermetamorfosis menjadi penulis sastra ini, ia hidup dalam dunianya sendiri. Dunia yang sunyi namun penuh lara. Dunia di mana tak ada perhatian dari sang penguasa atau para konglomerat, dunia kata yang hanya mampu menggugah rasa namun minim materi.

Seiring berjalannya waktu, isteri dan anak-anaknya juga berjalan dengan kehidupan mereka, meninggalkannya dalam dunia sunyi yang tetap dilakoninya hingga ia tua. Ia pun mulai dihinggapi syndrom kesepian  dan merana.  “Mereka meninggalkanku,” keluhnya suatu hari pada temannya yang juga mengalami nasib sama. “Apakah ini cara mereka membalas dendam? Kurasa tidak juga. Meski aku  lebih fokus pada kehidupanku sebagai penulis, tokh aku masih membiayai hidup mereka. Apa yang salah pada kita?” tanyanya pada si teman yang penyair yang mulai sakit-sakitan.

“Buat kita tak ada. Tapi bagi mereka ada. Mungkin kita dianggap mahluk yang paling egois yang pernah ada di dunia ini. Atau…memang demikian? Kita berusaha memenangkan ego kita tanpa memikirkan hal yang lain.  Berkarya dan memperoleh penghargaan itu yang selalu tertanam di benak kita, tanpa pernah kita menyadari apa yang dirasakan isteri dan anak-anak kita.

Kita memiliki jiwa sosial yang tinggi, memberi pada sesama dengan seluruh raga yang kita miliki, namun pernahkan kita memberikan seluruh yang kita miliki pada keluarga? Aku kini menyesalinya. Setiap orang memujiku sebagai sosok yang sangat berbudi dan sangat sosial, tapi mengapa anak-anak dan isteri meninggalkan kita? Jujur aku mulai merasa menyesal dengan keputusanku. Andai saja aku tidak desersi dari pekerjaanku sebagai Pegawai Negeri Sipil, mungkin pangkatku kini tinggi, anak-anak dan isteriku tentunya akan senang, mereka tidak pernah kekurangan.” Ujar si penyair.

Kemudian mereka saling menuturkan tentang nasib para teman yang lain. Tentang rahasia megah di balik kata, tentang nasib para seniman yang tak punya bendera untuk berlindung, tentang pemerintah yang menganggap keberadaan mereka seolah tak ada, tentang pensiun yang hanya khayal semata. Tentang mereka berdua yang terus berkarya tanpa pernah memikirkan masa depan mereka sendiri.

“Kalau aku sakit, siapa yang akan menolongku. Anak-anak dan isteriku telah mencampakkan aku. Aku tidak punya pensiun. Sama seperti teman kita yang punya isteri tiga dan lima anak, kudengar dia kemarin meninggal di dalam kamar kontrakkannya. Anak-anak dan isteri-isterinya tidak pernah tahu.” Ujar Gregory.

“Dia telah dijemput takdirnya.” Jawab si penyair sambil menahan dadanya yang nyeri. “Tidak hanya dia, kemarin di koran kubaca, ada seorang bintang film yang sakit gula dan terkapar di rumah sakit menunggu bantuan BPJS.” Tambahnya.

“Kita salah, tidak membuat manajemen yang baik dalam kehidupan kita. Dunia di balik kata sungguh telah memberikan aku euphoria yang menakjubkan. Biarlah kesalahan itu terjadi. Karena jika aku mati, aku sudah bahagia telah menentukan jalan hidupku sendiri…” ucap Gregory tanpa ekspresi.

Kokok ayam mulai mengiring embun pagi yang turun lamat-lamat. Rasa lapar mengikis usus mereka. Kemudian Gregory menyalakan tungku, merebus air dan memasukkan dua bungkus mie instan ke dalam rebusan air. Setelah itu, dengan sabar ia menuangkan dua kopi sasetan di dua cangkir yang ada di hadapannya. “Ini makanan dan kopi terakhir yang kupunya, semoga esok ada telepati yang mengusik gendang telinga anak-anakku sehingga mereka mau datang untuk memberiku sedikit uang buat kita makan.” Katanya dengan suara serak.

Lalu keduanya menikmati mie instan itu sembari menyeruput kopi pahit dengan diam, tanpa kata-kata. Sebab kata telah bersemayam kuat dan membisu di benak mereka. ***

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *