oleh

5 Orang Saksi Dihadirkan Terkait Terdakwa Teroris yang Kini Menjadi Warga Binaan Rutan Gunung Sindur

Jakarta, TribunAsia.com – Kelima orang saksi dihadirkan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur terkait terdakwa teroris Rizal Muzakir yang saat ini menjadi warga binaan rumah tahanan (rutan) kelas II B Gunung Sindur, Bogor, Jawa Barat.

Sidang yang dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim Arumningsih, SH serta didampingi oleh Hermawansyah, SH.,MH dan Gede Hermawan, SH.,MH.

banner 336x280

Saat persidangan (5) lima orang saksi dimintai sumpah sebelum menjawab pertanyaan tim Majelis Hakim. Selanjutnya, saksi-saksi yang duduk bersamaan menghadap Majelis yang bertanyakan tentang kedekatan terdakwa.

“Kenal dengan terdakwa,” kata Arumningsih selaku pimpinan sidang kepada para saksi.

“Saudara saksi kenal darimana,” tanya majelis kembali.

Saksi pun menjawab terkait terdakwa teroris yang diketahui dari cerita warga setempat perihal sosok terdakwa Rizal Muzakir.

“Cuma cerita dari orang,” singkat saksi diruang sidang.

Kemudian, penasehat hukum terdakwa memiliki kesempatan untuk mempertanyakan para saksi tentang perilaku keseharian kliennya.

“Anda kenal dari SD. Jadi, saudara tidak tahu keseharian terdakwa,” tanya pengacara kepada saksi.

“Tidak,” balas saksi.

“Apakah saudara saksi pernah melihat terdakwa bergabung dengan 1 komunitas. Tidak pernah ya,” tanya kembali kuasa hukum.

“Tidak,” jawab saksi.

Lebih lanjut, tim penasehat hukum terdakwa yang berjumlah 2 orang turut secara bergantian mempertanyakan saksi-saksi yang mengetahui tentang terdakwa.

“Apakah saudara paham (terdakwa),” tanya Arman selaku kuasa hukum terdakwa.

“Waktu itu hanya sebatas biasa saja,” ucap saksi.

Tim penuntut umum (JPU) pun turut meminta keterangan saksi yang telah melayani penjualan cairan alkohol dan termasuk bertanya tentang terdakwa yang pernah membeli alkohol.

“Saudara tau dijelaskan sama siapa terdakwa. Didaerah yang mana. Udah lama. Jadi, saudara bebas menjual ya. Alkohol ditujukan untuk apa. Saksi tidak pernah lihat terdakwa ini,” tanya jaksa penuntut umum.

Namun, dari kelima saksi diantaranya adalah pekerja apotik yang ditanya seputar penjualan alkohol cair yang dijual bebas termasuk kepada terdakwa. Tetapi penjual alkohol menyampaikan dikursi persidangan tidak mengetahui persis terdakwa dan diketahui setahun lalu itupun sebatas membeli alkohol.

Untuk itu, apoteker memberikan keterangan tambahan perihal alkohol yang kerap di beli oleh pelanggan antara lain sebagai obat luka dan dia menyangkal tidak ada hubungannya dengan bahan peledak.

“Sekarang udah 7 tahun di apotik ada obat bebas. Di apotik ada. Tidak sejauh sana. Setahun sekali. Sama sekali tidak tau. Kalau alkohol tidak itu tidak dijual biasanya ditanya untuk apa untuk luka atau jatuh,” jelas saksi pekerja apotik.

Selain itu, Majelis Hakim ikut serta bertanya kepada saksi yang telah menjual alkohol di apotik tempat saksi bekerja kepada setiap pelanggan.

“Saudara saksi jual berapa botol biasanya berapa,” tanya majelis

“Satu botol,” balas saksi.

Sementara saksi lainnya yang berprofesi sebagai pedagang juga mengutarakan, korek api yang dibeli oleh pelanggannya biasa digunakan untuk membakar rokok dan menyalakan api tungku.

“5 ribu 1 pak isi 10. Biasanya untuk merokok dan nyalakan tungku saya bukan grosir (pentol korek),” kata pedagang kelontong selaku saksi.

Terjadinya peledakan, Majelis Hakim sontak bertanya kepada saksi-saksi apakah mengetahui peristiwa itu.

“Saudara tau ada peledakan,” tanya majelis hakim.

“Tidak tahu. Saya buka dari jam 7 sampai jam 12 malam,” jawab pedagang kelontong. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *