oleh

Motif Balas Dendam, Anggota JAD Tembak Polisi

Jakarta, TribunAsia.com – Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian menyebut motif balas dendam sebagai alasan yang mendasari pelaku penembakan terhadap dua anggota Polisi Jalan Raya (PJR) di tol Kanci-Pejagan, Cipali. Pelaku disebut merupakan anggota Jamaah Anshorut Daulah (JAD) yang ingin balas dendam untuk mertuanya yang ditangkap sebulan sebelumnya.

“Jadi motifnya mertuanya dulu ditangkap. Mertuanya juga dulu JAD, lebih kurang sebulan yang lalu jadi mungkin dia balas dendam,” terang Tito setelah meresmikan Gedung Promoter RS Bhayangkara TK IR Said Sukanto, Jakarta Timur, pada Jumat (31/8).

Dua anggota polisi Patroli Jalan Raya (PJR) menjadi korban penembakan di Tol Kanci-Pejagan KM 224, Jawa Barat. Kepala Kepolisian Daerah Jawa Barat Inspektur Jenderal Agung Budi Maryoto menyatakan saat ini korban dalam keadaan stabil.

Dua anggota PJR yang ditembak itu atas nama Aiptu Dodon Kusgiantoro dan Aiptu Widi Harjana. Keduanya ditembak di wilayah Kecamatan Ciledug, Kabupaten Cirebon, pada Jumat (24/8) malam.

Kejadian tersebut bermula saat Dodon dan Widi berpatroli di jalan Tol Kanci-Pejagan KM 224. Mereka melihat tiga orang tak dikenal sedang duduk di pinggir jalan, kemudian menegurnya.

Namun yang terjadi kemudian tiga orang itu merampas senjata petugas. Pelaku kemudian menembak Dodon dan Widi dan para pelaku ditembak balik hingga menyebabkan luka cukup serius.

Dua pelaku yang tertembak kemudian melarikan diri ke RS Slawi untuk perawatan. Tito bercerita bahwa pelaku mengaku pada rumah sakit sebagai polisi yang tertembak oleh penjahat.

“Setelah tiga jam proses perawatan kemudian dia langsung lari. Kami sudah tahu dia anggota jaringan JAD,” lanjut Tito.

Dokter yang merawat pelaku IC dan RJ mengatakan salah satu di antara mereka mengalami luka yang parah di bagian perut. Tekanan darahnya telah turun karena banyaknya darah yang keluar hingga Tito menyebutnya mungkin sudah tewas.

Sementara itu, salah satu polisi yang tertembak, Dodon, meninggal pasca perawatan di rumah sakit.

“Kami sudah kerahkan mungkin sudah lebih dari 100 anggota untuk melakukan pengejaran kepada yang bersangkutan. Rumahnya udah tahu keluarga juga sudah terpetakan semua,” terang Tito.

“Kami tidak akan ambil risiko yang bersangkutan hidup atau mati harus tertangkap,” pungkasnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *