oleh

Hidup dan Mati-Ku Tetap di Banten

TribunAsia.com 

Oleh : Buya Karis

banner 336x280

Bagi ku Banten kaya seni budaya, potensi alam, luas laut pelabuhan banyak, akses jalan tol, industri, bandara, ulama, jawara, penguasa, pengusaha dan ahli Ilmu masih tetap bersatu tidak krisis ketokohan bahkan masayaarakatnya sopan santun. Menurut saya beda pendapat hal biasa tapi rasa kesatuan dan persatuan harus kita jaga.

“Urang Banten teu nyaho jeng teu ngaku ayana Kesultanan berarti eta lain urang Banten.”

Banten itu Kejayaannya pernah dikenal sedunia bukan cerita atau dongeng, Sultan Rtb. H. Bambang WS adalah fakta sejarah Banten.

Bila ada segelintir orang mau mengelirukan Sejarah Banten itu sisa-sisa si sontoloyo dulunya, bagi saya Banten the best.

Banten itu kecil, masa kita tidak bisa menyatukan sejarah Banten dengan fasilitas modern, para leluhur kita dengan fasilitas seadanya mampu mengharumkan Banten harusnya punya rasa malu geh?

Dalam mengembalikan Sejarah Banten kita harus komplit di dalamnya, tidak cukup dengan sekelompok harus berbagai elemen masayaarakat dari Tokoh Ulama, Ahli Ilmu, Darmawan, Jawara, Penguasa, Pengusaha, Pemuda tapi yang asli Banten, cinta Banten, tau Banten, ramah, taat hukum Banten, dan memiliki ruh Banten.

Baca Juga : Sultan Ratu Bagus H.Bambang Wisanggeni Soerjaatmadja : Kesultanan Banten Masih Berdaulat 

Dalam membenahi Banten saya lebih setuju diawali dengan rasa kebersamaan, saling mengisi kekurangan di diri kita masing-masing. Memberikan Hak dan kewajiban kepada Orang yang berhak menerimanya saling menjaga keutuhan, berbagi Ilmu, dan bersifat arif serta bijaksana.

Menyikapi Kesultanan di Banten saat ini saya melihat ada sebuah kontroversi, yang berhak menjalankan sebagai Sultan Banten dihambat bahkan dihalang-halangi, sedangkan yang bukan sebagai Pemangku Hak Kesultanan bertengger bahkan tidak memiliki sifat Legowo mempelintir Sejarah dan Akidah Kesultanan di Banten.

Bila Hal ini kita biarkan mau dibawa kemana Sejarah Banten, jadi mari kita benahi bersama luruskan kekeliruan ini. kalau bukan kita siapa lagi, bicara yang lantang dan tegas demi kebenaran.

Paling benci saya kepada Orang yang suka membuat Sejarah untuk direkayasa, entah itu pahit ataupun manis bila itu Sejarah harus diungkapkan. Dan tergantung orang yang menyikapinya karna itu pernah terjadi berupa Fakta bukan sekadar cerita.

Yang membuat kegaduhan Kesultanan Banten saat ini saya yakin masih masuk Keluarga Besar Kesultanan Banten, namun harus ditaati ada Tata Cara Kesultanan dan ada saatnya sebagai Pengganti Sultan penerusnya.

Dari pada jadi Geger Banten lebih baik Babad Banten Lengserkan secara paksa bila perlu Buya Karis yang melengserkanya, Kesultanan Banten jangan ada muatan politik, kepentingan sesaat dan intervensi dari luar kesultanan. Kesultanan Banten tetaplah Kesultanan, bahkan sampai saya dengar ada kalimat Hibah, siapa yang menghibahkanya (kesultanan, red.) Sultan Hasanuddin tidak pernah menghibahkan semua Isi Kesultanan.

Justru saya curiga bila ada kalimat Hibah, Banten Lama bisa habis oleh pengikisan lahannya bukan karena Laut atau Air Sungai Kebantenan tapi karena yang menerima Hibah itu dicicil, digadaikan bahkan dijual oleh kebutuhan oleh yang mengaku penerima Hibah. Bila kekhawatiran saya ini terjadi, bahaya dan bisa urusannya dengan Hukum dan tentu saja orang Banten bisa marah besar.

Menurut saya bila ada surat hibah atau wakaf lebih baik dibakar saja karena bila di sosialisasikan ke orang awam jg tdk masuk di akal, bila suratnya berisi amanah mungkin ini lebih cocok tapi ini versi Buya Karis.

Ini sebuah contoh yang saya lihat dan saya ikut memperjuangkannya: Tanah Suku Adat Baduy skrg bisa bahkan ada perlindungan hukum dan berubah bentuk menjadi Tanah Hulayat Baduy artinya di lindungi Undang-undang. Masa Tanah Kesultanan Banten Sayaarat Sejarah malah berubah bentuk jadi Tanah Hibah Kesultanan Banten artinya tdk ada kekuatan Hukum.

Ini sudah jelas ada sekelompok orang yang menginginkan Sejarah Banten Punah oleh gerusan jaman, mereka di satu sisi membuat subyek di sisi lain membuat obyek.

Insayaa Allah dalam waktu dekat, Buya Karis akan Seba Banten Lama atau Akan Turun Gunung untuk melihat Ke Kesultanan Banten Lama. Sekaligus napak tilas pejuang, Saya akan menemui Keluarga Besar Almarhum KH. Tb. Akhmad Khatib yang menjabat Keresidenan Banten begitu menjadi NKRI karna Beliau teman dan sahabat seperjuanganya alm Jaro Karis (ayah Buya Karis) jadi orang tua (KH Fathul Adhim, red.) dengan orang tua kami bersahabat. Sekarang kami para putranya yang meneruskan benang merah kedua orang tua kami.

Apabila pernyataan sikap saya ini salah mohon masukan kritik dan saran, dengan mengucapkan bismilah, menurut saya; Sultan Rtb. Bambang Wisanggeni adalah Sultan yang SAYAAH saat ini di Banten dan tidak perlu diragukan lagi. Terima kasih.

Amanat Jaro Karis (ayahanda) untuk urusan Banten Lama, “rek diciduhan oge diusap bae, tetep kudu ngajunjung turunan Sultan anu sah jeung turunan Ki Ahmad Khotib. Sabalikna ari lain ku nu dua eta kudu ngalawan mun diciduhan. Jalma anu hade di mata bapa kolot Karis eta aya tilu jalma. Nabi Muhammad SAW, Ir.Soekarno, KH. Tb. Achmad Chatib, tilu jalma eta nu kudu di gugu jeung di bela.”

Buya Sujana Karis-Lebak Banten.

Kalimat-kalimat tersebut merupakan sikap tegas yang disampaikan Buya Karis melalui pesan Whatsapp dan pada saat kunjungan silaturahmi Sultan Banten RTB H. Bambang Wisanggeni bersama team Safari Jum’at Kesultanan Banten di kediamannya di Lebak Banten.

Dalam kunjungan Safari Jum’at Perdana (20/01) Sultan RTB. H. Bambang Wisanggeni, dihadiri pula oleh KH. Fathul ‘Adhim Chatib, Andi S Suhud, A. Fahrudin, dan Pitong. (TP)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *