oleh

Driver Ojol Pergoki Aksi Pencopetan, Berakhir Menjadi Korban Pemukulan Gerombolan Copet Pulo Gadung

Jakarta, TribunAsia.com – Driver ojek online jadi korban penganiayaan akibat memergoki aksi pencopetan di Terminal Pulo Gadung, Jakarta Timur dihadirkan menjadi saksi dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur (PN Jaktim). Empat orang saksi dari Ojol itu menyampaikan, Harapan Sitinjak selaku terdakwa ikut terlibat dalam pemukulan saksi termasuk menghantam saksi dari Ojol yang menanti penumpang dengan tong sampah plastik yang ada di terminal.

“Saya melihat orang pulang kerja tasnya dibuka sama gerombolan copet Simanurung. Saya masih pake jaket (ojol), pertama saya naik motor dipukul sama tong sampah plastik,” kata saksi Yunias di PN Jaktim, Kamis (30/8/2018).

Saksi ojol yang memberikan keterangan dipersidangan, bahwa terdakwa ikut melakukan pemukulan dan ketangkap oleh rekan-rekan sesama ojol saat melarikan diri terus terjatuh disekitar terminal tepatnya di depan Alfamart.

Kemudian, kata saksi-saksi perihal aksi kekerasan itu dilaporkan ke Polsek Pulo Gadung dan di kantor polisi terdakwa mengatakan akan memberitahukan petugas terkait tempat persembunyian gerombolan copet yang bernama Manurung.

“Didepan kantor polisi, dia (terdakwa) bilang akan mengasih tau namanya Manurung,” kata saksi-saksi termasuk Ari dan Hasmi kepada TribunAsia.com.

Mereka hadir menjadi saksi-saksi, turut menuturkan menjadi korban pemukulan pada rahang kepalanya. Tidak hanya itu, barang-barang milik saksi driver online turut lenyap dalam peristiwa di terminal Pulo Gadung lalu. Karena, ketika kelompok ojol mencari Manurung yang sedang ditemui di dalam terminal tengah bermain judi koprok serta bersitegang dengan gerombolan yang diduga copet.

“HP dan dompet semua hilang. Kepala rahang sempet sakit dipukul. Pertama dipukul sama tong sampah ember cat  warna putih. Waktu itu saya nangkep Manurung dibelakang ada yang main judi koprok kemudian tiba-tiba ada yang bilang ngapain loh nangkep temen saya, saya sama polisi tiba-tiba yang main koprok menghampiri saya dan Manurung narik jaket saya,” beber saksi-saksi.

Ketika diruang sidang, Ketua Majelis Hakim mempertanyakan terdakwa atas kesaksian para saksi tentang kebenaran yang diutarakan saat kejadian dilokasi terminal.

“Manurung nggak ketangkep ya pak jaksa,” tanya jaksa Dwi Setiawan.

“Kamu ikut mukul nggak. Kamu ikut rombongan nggak. Jadi, keterangan saksi-saksi itu benar nggak,” tanya majelis hakim kepada terdakwa.

Sementara, Jaksa Penuntut Umum turut berkesempatan bertanya kepada saksi-saksi tentang jarak pemukulan yang terjadi di area pemberhentian bus Pulo Gadung.

“Bisa melihat jelas, berapa meter dia memukul gitu,” tanya Dwi selaku Penuntut Umum.

“Saya dipukul ada pecahan beling dikaki. Mangkanya saya tarik ke Alfamart disitu ada CCTV,” ujar saksi.

Lebih lanjut, Majelis Hakim menanyakan kembali kepada terdakwa keterkaitannya dengan kelompok copet Terminal Pulo Gadung yang disebut-sebut oleh saksi-saksi atas nama Manurung.

“Kamu kenal yang namanya Manurung, kamu kenal. Kamu termasuk kelompoknya itu bukan. Tadi saksi mengatakan lihat kamu memukul,” tanya majelis hakim.

“Kamu ikut mukul atau tidak. Ini keterangan di BAP bener atau tidak. Keterangannya waktu diperiksa pak polisi benar nggak. Kamu ikut mukul bagamana ini pak jaksa,” tanya kembali.

“Memang pas saya ada disitu. Iya sama punya teman yang namanya Manurung, kalau Manurung yang satunya saya kenal,” ucap terdakwa.

Dwi selaku JPU pun kembali mempertanyakan, terdakwa tentang keterangan yang diperoleh dari saksi-saksi dilokasi perihal terdakwa yang berada saat kejadian pemukulan.

“Nggak tau sih kalau kamu berbelit-belit. Nggak tau sih mereka bilang kamu ada,” terang Dwi.

Sementara, sidang akan dilanjutkan pekan depan oleh Majelis Hakim dan sempat mengatakan lebih terbuka dalam memberikan penjelasan diruang sidang  sebelum mengakhiri persidangan kepada terdakwa.

“Baik tinggal menunggu seminggu tuntutan. Kamu punya anak nggak, kamu punya anak istri nggak. Nggak usah melindungi orang bersalah sekarang zaman premanisme,” tegas majelis hakim. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *