oleh

Terdakwa Teroris yang Gagal Berangkat ke Negara Suriah Menjelaskan Dipersidangan Jaktim

Jakarta, TribunAsia.com – Sidang teroris yang gagal berangkat ke negara Suriah dengan terdakwa Yadi Supriadi alias Abu Arkom jalani persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur. Pada Rabu petang, 29 Agustus 2018 sidang teroris dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim Khadwanto serta didampingi oleh Majelis Hakim anggota Tarigan Muda Limbong dan Muharif

Saat sidang berjalan, Ketua Majelis Hakim mengatakan kepada terdakwa Yadi Supriadi alias Abu Arkom bahwa bangsa Indonesia adalah negara yang besar dan makmur. Akan tetapi bangsa Indonesia jangan sampai terjajah oleh negara Arab atau Suriah.

“Ngapain kita dipimpin oleh orang Suriah sana. Negara kita besar subur makmur kita ini jangan ngiri orang sana. jangan orang Arab Suriah menjajah kita budaknya dia. Kita sebagai bangsa Indonesia cerdas dijajah bangsa-bangsa lainnya,” kata Majelis Hakim Khadwanto kepada terdakwa.

Majelis Hakim menambahkan, bila hendak melakukan tindakan harus dipertimbangkan terlebih dahulu dengan akal pikiran yang sehat dan yang terpenting kata Hakim mengutamakan keluarga daripada memikirkan negara Khilafah.

“Itu saudara kesana karena mendukung ISIS propaganda itu kosong itu tipu akal sehat kita. Mungkin agama saja yang dijual itu yang merekrut gunakan akal. Kita harus mementingkan diri dan keluarga nggak usah mikirin negara dululah mikirin keluarga. Nggak usah hidup diangan-diangan melahirkan negara khilafah di Arab Saudi nggak ada negara khilafah,” ujar majelis hakim.

Selain itu, Jaksa Penuntut Umum pun mempertanyakan terdakwa Yadi Supriadi alias Abu Arkom, tentang struktur organisasi dan jumlah anggota yang diduga hendak ke negara Suriah meskipun belum sempat pergi ke Suriah.

“Saudara pimpinan. Berapa banyak anggota. Apakah ada kegiatan malam. Berapa lama anda diposkan dan belum sempat ke Suriah ya,” tanya Ade selaku JPU.

Selanjutnya, terdakwa menjawab atas pertanyaan dari JPU yang dialamatkan pada dirinya dijelaskan tentang tujuan dan jumlah peserta yang hendak ke negara Suriah.

“Jadi saya berjalan jauh 50 orang itu orang-orang yang akan ceramah. Malam itu diisi cerah Daulah Islamiyah. Lalu saya disuruh pergi ketika saya dicari aparat. Saya istikharah bersama ustadz. Saya naik kereta dari Cirebon (Jabar) ke Gambir (Jakarta) lalu ke Soeta (Bandara Soekarno Hatta) dan saya dikasih nomor kontak penghubung untuk janjian,” jelas terdakwa diruang sidang.

“Saya diposkan selama 3 bulan belum ke Suriah. Dipintu perbatasan karena ketat. Saya digerebek anti teror,” ucap terdakwa Yadi Supriadi.

Sementara, Mustofa dan Nurlan selaku Tim Penasehat Hukum terdakwa melempar pertanyakan kepada kliennya tentang sikap penyesalan  berkaitan dengan proses hukum yang dijalani oleh terdakwa.

“Ada penyesalan atau bagaimana,” tanya kuasa hukum.

“Apa harapan anda (terdakwa),” tanya kuasa hukum kembali.

“Saya mau ke Suriah asal ada kompensasi karena ada stigma negatif dimasyarakat (tempat tinggal), karena saya dianggap terpidana teroris,” jawab terdakwa.

“Semua terdakwa itu berharap bebas,” imbuhnya diruang sidang dengan mengenakan rompi tahanan orange. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *