oleh

Antara Meliana, Adzan dan Anti Imperialisme

TribunAsia.com

Oleh : Alireza Alatas

banner 336x280

 

SUATU hari, Mantan Perdana Menteri Inggris, Gladstone, di depan forum Majelis Umum Inggris sambil memegang kitab Al-Qur’an menyatakan, “Sesungguhnya kalian tidak akan pernah mampu mengalahkan kaum muslimin sebelum kalian merobek-robek kitab al-Qur’an ini.”

Tiba-tiba salah seorang di antara anggota majelis merebut kitab Al-Qur’an itu seraya merobek-robeknya. Gladstone menanggapi sikap anggota majelis itu, mengatakan, “Alangkah bodohnya kamu ini. Yang saya maksud bukan merobek kertasnya, akan tetapi merobek-robek ajarannya dari dalam jiwa kaum muslimin.”

Syekh Nasir Makarim Shirazi dalam kitabnya Tafsir Al Amtsal juga menyinggung sinisme Gladstone, politisi Inggris yang juga seorang Zionis. “Selama nama Muhammad SAW ada dikumandangkan di pembesar-pembesar suara, Ka´bah tetap eksis, Al Quran berperan sebagai petunjuk dan pemimpin ummat Islam, maka tidak lah mungkin politik kita bisa kokoh di negeri-negeri Islam,” kata Glodstone yang dikutip dalam kitab Tafsir Al Amtsal.

Apa yang disampaikan Goldstone membuktikan bahwa adzan bukanlah sekedar suara pengingat sholat bagi ummat Islam, tapi juga bentuk perlawanan terhadap segala bentuk imperialisme. Goldstone sendiri tak kuasa mendengar suara adzan.

Baca Juga : Protes Suara Azan, Meiliana Divonis 18 Bulan Penjara

Tidak lah salah, bila sepanjang masa, adzan dianggap sebagai bentuk pembangkangan oleh setiap penguasa zalim dari masa ke masa. Bagi siapapun yang tak berpihak pada keadilan, adzan merupakan ancaman yang serius.

Dengan demikian adzan dapat dipahami sebagai bentuk amar makruf nahi munkar yang paling efektif dalam melawan ketamakan manusia di muka bumi ini. Penguasa zalim selalu gerah mendengar suara adzan yang selalu dikumandangkan tanpa henti di speaker masjid-masjid.

Adzan selalu aktual di masanya untuk menghidupkan humanisme transenden untuk meraih idealisme kehidupan baik di dunia maupun di akherat. Secara filosofi, adzan menyerukan masyarakat untuk ingat kepada Allah Swt di tengah kesibukan duniawi.

“Hayya alal falah,” demikian bagian adzan yang mengajak manusia menuju pada sebaik-baik kemenangan dan keberhasilan yang hanya bisa ditempuh dengan menghamba kepada Allah. Apapun keberhasilan akan berujung pada nihilisme dan sia-sia tanpa diawali dengan menghamba kepada Allah SWT.

Di balik makna “falah” manusia dituntut memahami bertanggung jawab atas semua perilakunya baik di level individu maupun sosial di hadapan Allah SWT. Tanggung jawab itu harus berbanding lurus dengan pandangan dunia yang ditegaskan dalam adzan.

“La ilaha illallah,” demikian adzan menegaskan semua yang ada di alam semesta bukan lah penentu selayaknya Tuhan, tapi faktor utama dan penentu tetaplah Allah Swt. Apapun jabatannya baik kepala desa maupun kepala negara hanya sebatas makhluk yang tidak lebih sekedar penunjang bukan penentu.

Secara lazim, suara adzan harus lebih keras dikumandangkan di instansi-instansi pemerintah yang memikul jabatan dan tanggung jawab terhadap rakyat. Mereka harus disadarkan dengan adzan bahwa tidak ada tuhan-tuhan kecil   melainkan hanya ada Allah Maha Besar.

Sejauh ini, kritik pada adzan hanya pada teknis merdu dan tidaknya suara. Mungkin saja kritik tersebut pada tempatnya. Namun bila dilihat dari  substansi, adzan dapat dipahami sebagai teriakan  protes pada kezaliman dan kecongkakan. Adzan merupakan narasi ilahi yang didengar oleh setiap orang yang berhati nurani.

Baca Juga : Aturan Penggunaan Speaker Masjid

Catatan di atas bukan berarti sepakat atas hukuman terkait peristiwa Meliana, Tanjung Balai, 2016. Sebagaimana disinggung Natalius Pigai selaku Ketua Tim Pemantauan dan Penyelidikan Peristiwa Meliana, kasus Meliana tidak bisa digebyah uyah sebagai penista agama seperti Ahok.

Menurut Pigai, kasus Meliana, seorang warga Tanjung Balai yang divonis 1,5 tahun di Pengadilan Negeri Medan, tak lain merupakan salah satu bukti lemahnya intelijen keamanan.  Selain itu, sistem hukum yang begitu lemah menindak Ahok saat itu membuat masyarakat cepat tersulut dan terprovokasi.

Rezim telah menciptakan kondisi traumatik rakyat karena penistaan agama yang sebenarnya tidak ditindak secara cepat. Akibatnya, seorang Meliana pun jadi korban tudingan penistaan yang belum tentu benar. Setidaknya tidak benar menurut Pigai yang selama ini menunjukkan obyektivitasnya terhadap berbagai kasus, termasuk kriminalisasi terhadap Imam Besar Habib Rizieq Shahab.

“Saya tetap meyakini dengan apa yang saya lihat, dengar, rasakan dan dengan berpegang teguh pada prinsip kebenaran dan dugaan hati nurani, bahwa Meliana adalah hanyalah seorang warga negara kecil keturunan Tionghoa yang menjadi korban kebencian atas perilaku ponga yang dipertontonkan Ahok dan Jokowi sehingga menimbulkan friksi yang tajam antar etnis dan agama di negeri tercinta ini. Wallahu’Alam,,,,

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *