oleh

Meski Rusak Parah, SDN Mutiara Bogor Belum Dapat Perhatian Pemerintah

Bogor, TribunAsia.com – Kondisi SDN Mutiara Bogor sangat memprihatinkan, ruang belajar sekolah dalam kondisi rusak parah, bahkan terancam roboh. Kondisi tersebut terungkap dalam diskusi bersama terkait evaluasi proses rehab sekolah yang digelar Komite Pemantau Legislatif (KOPEL) Indonesia berkerjasama dengan Yapika-ActionAid. turut hadir pula para Guru, Komite Sekolah, RT/RW dan Orang Tua Murid.

Menurut Anwar Razak, Koordinator Advokasi KOPEL Indonesia, hingga detik ini belum ada tanda-tanda proses rehab ruang kelas SDN Mutiara.

banner 336x280

“Belum ada tanda-tanda direhab ruang belajar mengajar di SDN Mutiara, sementara jadwal rehab akhir bulan Juli dan selesai Agustus 2018 bahkan tinggal menghitung hari akan masuk musim hujan”ujarnya, pada saat diskusi dengan orang tua murid SDN Mutiara, hari ini (25/8).

Lanjut Anwar sapaan Anwar Razak, seharusnya  Pemda mempercepat proses rehab ruang kelas SDN Mutiara, jika tidak maka dapat mengacam nyawa anak-anak dan guru.

“Seharusnya Pemda mempercepat untuk rehab ruang kelas SDN Mutiara, jika tidak maka dapat mengacam nyawa anak-anak dan guru” pungkasnya.

Anwar menjelaskan pemerintah Kabupaten Bogor, termasuk anggota DPRD seharus belajar dari kejadian-kejadian sebelumnya.

“seharusnya kejadian robohnya sekolah di kabupaten Bogor merupakan  bukti nyata bahwa ada masalah serius dalam kondisi bangunan sekolah dan kualitas bangunan. Jika dibangun pada saat musim  hujan maka bisa mempengaruhi kualitas bangunan” tegasnya.

Sementara, Arip, Ketua Komite SDN Mutiara mengatakan Pemerintah Kabupaten Bogor harus segera membangun sesuai dengan jadwal yang telah disepakati

“Ada 5 rombel yang kondisinya hampir roboh dan siswa belajar di bawah terpal, membuat membuat orang tua murid khawatir jangan sampai gedung tiba-tiba roboh pada saat anaknya main atau belajar” pungkasnya.

Lanjut Arip sekarang mau musim hujan dan belum ada kepastian pekerjaan pembangunannya.

“Semestinya Pemda Bogor lebih peduli terhadap nasib dan masalah yang dihadapi oleh masyarakatnya, jangan sampai menunggu ada kejadian yang tidak diinginkan baru bergerak” paparnya.

Komariah, orang tua murid SDN Mutiara yang hadir dalam pertemuan tersebut merasa khawatir karena anaknya tidak mau sekolah lagi sebab sekolah belum dibangun atau di perbaiki.

“Merasa khawatir saja karena anak saya tidak mau lagi masuk sekolah karena sekolah belum dibangun atau diperbaiki” imbuhnya.

Sambung Komariah, dirinya merasa was-was dengan kondisi bangunan yang mau roboh dan bisa menimpah anaknya sewaktu-waktu.

“Setiap kali anak ke sekolah saya merasa was-was karena takut bangunan sekolah yang rusak dapat roboh sewaktu-waktu dan menimpah anak-anak. Seharusnya Bupati dan Kepala Dinas Pendidikan datang cek langsung sekarang, supaya bisa melihatnya” harapnya.

Tahun ini SDN Mutiara mendapatkan anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK) kurang lebih Rp 250 juta dari Pemerintah Pusat melalui Pemda Kabapaten Bogor. SDN ini terletak di Kampung Pasir Bayur, Desa Cibeber II, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor. Bila satu saja ruang kelas yang roboh di sekolah ini maka tetap akan mengancam  2 ruang kelas sebelahnya karena rangka bangunan saking terhubung. Dengan kondisi yang masih memprihatinkan ini, pihak sekolah akhirnya memutuskan 5 rombongan belajar (rombel) terpaksa belajar di bawah tenda darurat. (ZNR)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *