oleh

Khatib Jumat Tuna Netra, Ustadz Rojiin Faqih Sentil Aset Negara yang Dijual

Jakarta, TribunAsia.com – Kemerdekaan yang dirasakan Bangsa Indonesia saat ini hendaknya disyukuri sebagai ramat Allah SWT. Syukur memiliki makna pujian bagi orang yang memberikan kebaikan, atas kebaikannya tersebut.

“Syukur adalah menunjukkan adanya nikmat Allah pada dirinya. Dengan melalui lisan, yaitu berupa pujian dan mengucapkan kesadaran diri bahwa ia telah diberi nikmat. Dengan melalui hati, berupa persaksian dan kecintaan kepada Allah. Melalui anggota badan, berupa kepatuhan dan ketaatan kepada Allah”

banner 336x280

Lawan dari syukur adalah kufur nikmat, yaitu enggan menyadari atau bahkan mengingkari bahwa nikmat yang ia dapatkan adalah dari Allah Ta’ala. Semisal Qarun yang berkata, “Sungguh harta dan kenikmatan yang aku miliki itu aku dapatkan dari ilmu yang aku miliki” (QS. Al-Qashash: 78).

Ketahuilah bahwa syukur merupakan salah satu sifat dari sifat-sifat Allah yang husna. Yaitu Allah pasti akan membalas setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh hamba-Nya, tanpa luput satu orang pun dan tanpa terlewat satu amalan pun. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ شَكُورٌ

“Sesungguhnya Allah itu Ghafur dan Syakur” (QS. Asy-Syura: 23).

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah” (QS. Al Baqarah: 172).

“Maka bersyukur adalah menjalankan perintah Allah dan enggan bersyukur serta mengingkari nikmat Allah adalah bentuk pembangkangan terhadap perintah Allah,” kata Ustadz Rojiin Faqih dalam Khutbah Jumat ( 17/8) di Masjid Umar bin Khattab, Jatinegara, Jakarta Timur.

Khatib Jumat Tuna Netra, Ustadz Rojiin Faqih di Masjid Umar bin Khattab, Jatinegara, Jakarta Timur. (17/08/18)

Ustadz Rojin Faqih menerangkan dalam Khutbah Jumat itu, sekarang kenyataanya berbeda banyak masyarakat indonesia tidak mensyukuri dengan sebenarnya. Khususnya para peminpin bangsa. Mereka mereka demi kepentingan pribadi atau golongan demi mempertahankan kekuasaan.

Membiarkan aset aset negara serta menjual hasil bumi indonesia demi kepentingan pribadi tanpa memperdulikan masa depan rakyatnya dan kedaulatan bangsa.

“Contolah, sahabat Umar ketika ia menjadi pemimpin negara beliau berkata aku tidak akan membiarkan satupun binatang melata yang kelaparan. Jika memang ada maka akulah yang bertanggung jawab,” kata Khotib tuna netra dan Pembina Ikatan Tuna netra Muslim Indonesia (ITMI), Ustadz Rojin Faqih. (ajat)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *