oleh

Mungkinkah Maruf Amin Diganti ?

TribunAsia.com

Oleh : Suharsono

banner 336x280

 

Santer terdengar ada desakan agar koalisi partai pendukung Jokowi mengganti Maruf Amin sebagai Cawapres. Skenario pergantian ada pada tes kesehatan.

Mengapa muncul isu pergantian ini? Menurut saya ini penjelasannya. Koalisi partai pendukung Jokowi tidak membayangkan sebelumnya akan munculnya reaksi yang begitu keras dari pendukung Ahok dan pendukung Jokowi pasca ditetapkan Maruf sebagai Cawapres. Mereka hampir separoh tidak setuju Maruf Cawapres. Ada yang akan memilih golput dan ada yg akan mengalihkan dukungan.

Khusus pendukung Ahok banyak yang akan memilih golput. Mereka ini sungguh sulit menerima seorang Maruf yang Ketua MUI lewat fatwanya telah menjebloskan Ahok dalam jeruji besi. Saya kira ini bisa dimaklumi dan logis. Baik pendukung Ahok maupun pendukung Jokowi yang selama ini anti politisasi agama, tetiba dihadapkan pada pilihan aneh dan lucu harus mendukung Maruf yang mereka anggap sebagai trigger politisasi agama. Mereka merasa busur panah yang selama ini mereka lepaskan, berbalik arah kembali menghunjam hulu hati mereka.

Mereka marah dan geram bercampur galau akut atas realitas Jokowi memilih Maruf. Di media sosial (FB dan Twitter) mereka seperti ‘Mati Gaya’ berhadapan dengan bully-an dan ejekan  bertubi-tubi dari pendukung Prabowo-Sandi.

Penolakan dan kritis keras juga datang dari para intelektual kampus yang selama ini mendukung Jokowi. Mereka kecewa atas pilihan itu. Juga para intelektual muda NU yang liberalis dan para Gusdurian (pengikut Gus Dur) bersama putri² dan saudara² Gus Dur, semua merasa kecewa. Mereka ingin Mahfud yang menjadi Cawapres, tapi kemudian dicampakkan secara hina-dina di tengah harapan mereka yang membuncah ria.

Sementara mereka yang menerima Maruf Cawapres, pikirannya sederhana: Tidak ada rotan akar pun jadi. Andaikan dengan Abu Jandal pun sekalian, pokoke Jokowi. Kepalang basah.

Terhadap semua reaksi tersebut, elit koalisi partai pendukung Jokowi dua hari terakhir berpikir keras. Apakah terus memantapkan Maruf dengan risiko ditinggalkan pendukung setia Ahok dan Jokowi, ataukah diganti dengan risiko menghadirkan kekecewaan baru dari pihak yang tidak setuju pergantian. Dimakan ibu mati, tidak dimakan ayah mati. Dilema akut. Pada akhirnya harus memilih. Lebih baik ayah mati daripada ibu mati. Pilihan sulit daripada mati kedua-duanya.

Skenario pergantian Maruf secara smooth menjadikan tes kesehatan sebagai alasan. Meski misalnya secara medis Maruf lolos tes kesehatan, entah dengan cara apa target utama Maruf diganti. Saya sendiri melihat Maruf secara kasat mata sehat. Yang dikhawatirkan apakah ia bisa lolos pada psikotest — sanggup memikul beban pekerjaan dan tanggungjawab yang berat. Ini salah satu soal wajib yang diujikan pada semua Capres-Wapres.

Terakhir, ini semua hanya analisa. Bisa benar bisa salah. Tergantung sudut pandang dan pada standing politik mana anda berdiri. Tak perlu ada yang merasa tersanjung dan tak perlu ada yang merasa baper. Nikmati saja. Toh pada akhirnya kita sendiri yang menentukan hidup kita.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *