oleh

Anies dan Kemerdekaan Penjual Bambu Se-Nusantara

TribunAsia.com

Oleh : Abdul Malik Raharusun (Sekretaris Eksekutif PN. MASIKA-ICMI)

 

Polemik Tiang Bambu Bendera

Baru-baru ini nitizen heboh dengan polemik tiang bendera dari Bambu menyambut peserta Asian Games 2018 di Jakarta. Sekelompok anak muda warga RW. 17 Kelurahan Penjaringan, Jakarta Utara berinisiatif memeriahkan pesta olahraga tingkat Asia dengan memasang bendera Negara peserta Asian Games 2018 menggunakan Bambu sebagai tiang bendera. Pemasangan bendera dengan tiang Bambu pada Jalan depan Mall Emporium, Pluit, Jakarta Utara Rupanya mengundang komentar nyinyir dan berujung pembullyan kepada Gubernur DKI Jakarta, Anies R. Baswedan.

Warga nitizen yang nyinyir dan membully Gubernur Anies Baswedan mengatakan, akun @Aryprasetyo, “DKI jaman now, APBD triliunan tapi bisanya nyediain bambu utk tiang bendera acara ASIAN GAMES. Semiskin itukah ibu kota negriku skrg? Msa tiang bendera pke bambu di belah 7? Apa dana tiang bendera di KORUP jg utk balikin modal kmpanye?,”  , @jimmy_atp , “DKI oh DKI riwayat mu kini…bendera negara ikut asian games pakai tiang bambu belah…memalukan Ibu kota Negara,”  dan @RagilSempronk, “Untuk event sekelas Asean Games dengan tiang bendera belahan bambu saya rasa sangat memalukan, bahkan umbul umbul di kampung saya tiangnya jauh lebih bagus dari itu. Edan tenan kowe @aniesbaswedan,”  Dan beberapa lagi.

Tentunya selain komentar nyinyir dan pembullyan banyak juga warga net yang melakukan klarifikasi dan penghargaan kepada warga yang berinisiatif menyemarakan pesta olahraga Asian Games diantaranya, @Redstudio_id, “Lagi pada pesta fitnah nih. Ck ck cks itu tiang bendera aspirasi warga mereka nyumbang buat menambah semarak bukannya milik pemprov semakin hina aja pasukan cebong,”, @SeruniPuspaAlam, “Anies jangan dibully soal tiang bendera dari bambu. Anies gak salah, di kampungku malah ada yang pakai lidi,” dan @AzzamIzzulhaq, “Warga mendukung dengan berkontribusi memasang bendera negara peserta Asian Games walau dengan tiang bambu yg sederhana disoal. Yg menyoal rata-rata adalah mereka yg memasang bendera Merah Putih di rumahnya saja malas-malasan. Apalagi diajak kerja bakti di lingkungannya”.

Setelah diwawancarai CNN Indonesia, Muhammad Tamran Daeng Tahang, warga Penjaringan sosok dibalik pemasangan tiang bendera menggunakan Bambu mengatakan, “Demi Allah demi Rasulullah itu atas inisiatif saya sendiri, enggak ada itu dari pemerintah maupun siapa pun untuk masang itu bendera, Kami ingin menyambut Asian Games biar meriah gitu jadi banyak bendera-bendera negara itu,” ujar Tamran yang sehari-hari bekerja serabutan di kawasan Pluit kepada wartawan CNN Indonesia. Inisiatif memeriahkan Asian Games 2018 oleh warga Jakarta idealnya kita apresiasi dengan baik, warga yang telah ikhlas menghibahkan harta dan waktunya untuk menyambut tamu negara, walaupun seadaannya, hal demikian bagian dari abad yang tinggi.

 

Respon Gubernur Anies Baswedan

Merespon polemik nitizen yang berujung pada pencopoptan tiang bendera di kawasan Pluit oleh petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) Jakarta, Gubernur DKI Anies Baswedan mengeluarkan memo kepada Walikota Jakarta Utara. Pada memo yang kemudian menjadi viral di media sosial, Anies menulis.

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Saya baru membaca bahwa tiang bambu bendera peserta Asian Games di Penjaringan diturunkan oleh PPSU sebagai reaksi atas serangan di media dan di media sosial.

Pemasangan bendera itu adalah inisiatif warga. Jangan halangi, jangan rendahkan dan mari kita izinkan rakyat merayakan Asian Games dengan kemampuannya, dengan ketulusannya.

Bambunya memang bekas tapi ketulusannya original. Bambunya agak melengkung, tapi niat mereka lurus. Bambunya pendek, tapi semangat mereka tinggi sekali.

Dan sampaikan pada semua. Jangan sekali-kali anggap rendah tiang bendera dari bambu. Itulah tiang yang ada di rumah-rumah rakyat kebanyakan. Penjualnya rakyat kecil. Pengrajinnya pengusaha kecil. Penanamnya ada di desa-desa. Biarkan hasil panen rakyat kecil, hasil dagangan rakyat kecil ikut mewarnai Ibu Kota. Jangan hanya gunakan tiang besar buatan pabrik yang ukuran kekayaannya sudah raksasa.

Saya berharap, tiang bambu dan bendera sederhana inisiatif warga ini malah akan jadi inspirasi bagi warga kampung lainnya untuk mempercantik lingkungannya, menyambut tamu-tamu yang datang ke Jakarta yang ikut mereka rasakan sebagai rumah besar milik mereka.

Lewat memo ini saya instruksikan untuk dipasang kembali. Harap  pastikan keamanan dan kerapiannya. Terima kasih.

Salam,

Anies Baswedan

 

MemoAnies, selain mengakhiri polemik nitezen juga menempatkan posisi Anies-Sandi dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang berpihak kepada rakyat kecil, yakni rakyat kecil yang dengan ikhlas berbuat lebih baik untuk pembangunan. Respon Anies pun tidak hanya mendapat apresiasi dari warga net tetapi juga komentar positif dari Romo Jaya Suprana. Dalam acara Jaya Suprana Show, di depan Anies yang diwawancarai Romo Jaya Suprana mengatakan, “Pak Gubernur, Saya pertama dari lubuk sanubari Saya yang terdalam mengucapkan terimakasih. Kemarin Saya sangat terharu bagaimana Anda membela teman-teman kita yang memasang tiang bendera dengan Bambu, wah itu Saya terharu banget, yah karena Pak Gubernur tahu sebelumnya kan mereka dihujat habis-habisan kan, sebagai mempermalukan bangsa dan macam-macam. Dan Saya tadi juga sudah pasrah gak berdaya tapi mendadak Anda berkenaan untuk menyatakan suatu pernyataan yang menurut Saya itu Pernyataan Kerakyatan yang sangat-sangat luar biasa…..”.

Romo Jaya Suprana dalam wawancara tersebut memuji pernyataan Anies yang menurutnya adalah pernyatan kerakyatan dari Gubernur Anies. Lewat memo dinasnya Anies mengirimkan pesan tidak hanya bagi warga Jakarta tetapi juga Bangsa Indonesia dan dunia. Anies mengingatkan kita tentang keberpihakan kepada rakyat kecil, dalam memonya itu Anies berpesan, “Jangan sekali-kali anggap rendah tiang bendera dari bambu. Itulah tiang yang ada di rumah-rumah rakyat kebanyakan. Penjualnya rakyat kecil. Pengrajinnya pengusaha kecil. Penanamnya ada di desa-desa. Biarkan hasil panen rakyat kecil, hasil dagangan rakyat kecil ikut mewarnai Ibu Kota”.

 

Kemerdekaan Bagi Rakyat Kecil

Memo dinas Gubernur Anies memang memiliki karakter yang sangat kuat dari seorang Anies Baswedan. Gubernur yang lahir dari rahim perjuangan, bukan hanya sepak terjang keluarganya tetapi Anies sendiri adalah pejuang hak-hak rakyat dan bangsa sejak usia muda tatkala dibangku SMA.

Dalam memo dinasnya Anies mengirimkan pesan keberpihaknya dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kepada rakyat kecil. Rakyat kecil yang jumlahnya mayoritas, mereka berjuang di Negara yang sudah lebih dari setengah abad merdeka. Berjuang mempertahankan hidupnya dengan mengais sedikit demi sedikit rezeki di jalan-jalan Ibu Kota.

Tentu ini bukan dan jauh dari kesan pencitraan, pembelaan Anies kepada hak-hak rakyat kecil bukan hanya kasus tiang bendera dari Bambu tetapi juga bagi yang lain. Anies mengatur regulasi kebijakan bagi Tukang Becak, penarik Bajai, pedagang PKL Tanah Abang, menolak reklamasi, menutup tempat hiburan malam, membolehkan sepeda motor melintas di seluruh jalan raya di DKI, mengatur regulasi warga luar Jakarta bertarung hidup di Jakarta, menyediakan rumah DP Nol persen, dan sebagainya, adalah bukti keberpihakan Anies kepada rakyat kecil yang jumlahnya mayoritas. Keberpihakan yang sekaligus memberikan kemerdekaan bagi rakyat kecil.

Hari ini, pada bulan Agustus, seperti biasa di seluruh pelosok nusantara akan dimeriahkan hari kemerdekaan bangsa ini tepatnya pada tanggal 17 Agustus. Satu dari sekian banyak kemeriahan itu, yang juga bentuk syukur kita atas kemerdekaan ini adalah pemasangan bendera Merah-Putih. Pada momentum inilah petani Bambu, Pengrajin Bambu dan penjual Bambu di seluruh Nusantara mengambil dan mengais rezeki tahunan 17an.

Jutaan rakyat kecil yang hidup pada pelosok-polosok nusantara dengan susah payah menebang Bambu lalu dengan kendaraan sederhana, ada yang menggunakan perahu, gerobak, mereka menghantarkan Bambu-bambu dari hutan didesanya ke pusat-pusat kota. Mereka menjual Bambu-bambu. Bambu-bambu yang akan digunakan menjadi tiang bendera, tiang bendera Merah-Putih, sebagai pesan kemerdekaan republik ini.

Sebagaimana memo Anies ini, “Jangan sekali-kali anggap rendah tiang bendera dari bambu. Itulah tiang yang ada di rumah-rumah rakyat kebanyakan. Penjualnya rakyat kecil. Pengrajinnya pengusaha kecil. Penanamnya ada di desa-desa. Biarkan hasil panen rakyat kecil, hasil dagangan rakyat kecil ikut mewarnai Ibu Kota”, kelak akan menjadi pesan abadi Bangsa ini, tentang kemerdekaan, bagi rakyat kecil yang jumlahnya mayoritas di Bangsa ini.

 

Kepulauan Kei, 10 Agustus 2018

 

Referensi

https://www.tagar.id/ini-kicauan-netizen-soal-tiang-bendera-dari-bambu-sambut-asian-games

https://www.liputan6.com/cek-fakta/read/3597406/cek-fakta-bendera-asian-games-pakai-tiang-bambu-inisiatif-warga

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180719170847-20-315512/pemasang-bendera-tiang-bambu-di-pluit-asian-games-itu-apa

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *