oleh

Sarana dan Prasarana di Jakarta Belum Sepenuhnya Berpihak kepada Kaum Difabel  

Jakarta, TribunAsia.com – Sarana dan Prasarana yang tersedia pada fasilitas umum di Jakarta belum benar-benar memperhatikan kebutuhan kaum difabel, penilaian ini disampaikan oleh Aktivis Komite Advokasi Penyandang Cacat Indonesia, Fikri Thalib, dalam rapat dengar pendapat bersama Dinas Perhubungan DKI dan Dinas Sosial DKI Jakarta.

 

banner 336x280

“Fasilitas perhubungan di Jakarta belum sepenuhnya berpihak kepada difabel misalnya kursi roda di busway, pengguna kursi roda masih terkadang kesulitan untuk naik ke atas busway, pelayanan di perkantoran juga belum sepenuhnya ramah, akses untuk difabel belum sepenuhnya tersedia” ucapnya di Ruang Rapat Lantai I Dishub DKI, Rabu (7/8).

 

Terkait dengan peraturan ganjil genap yang diberlakukan Pemprov DKI pada ruas jalan tertentu, Fikri berharap agar pengecualian yang diberikan kepada kaum difabel tidak disalahgunakan oleh oknum tidak bertanggung jawab. “Harus diantisipasi difabel gadungan, caranya adalah dibuatkan stiker khusus untuk kendaraan yang digunakan difabel yang bisa menjadi pembeda secara jelas antara yang difabel dan bukan difabel, untuk tuna netra dalam bentuk kartu” imbuhnya. 

Baca Juga : Fikri Thalib : Kondisi Difabel Bukan Halangan untuk Terus Bergerak

Fikri juga menyoroti kesalahan berpikir birokrasi yang masih dipertahankan, kesalahan yang dimaksud berhubungan dengan tupoksi pihak yang menangani masalah difabel. “Penanganan terhadap difabel jangan lagi sepenuhnya dibebankan kepada Depertemen Sosial, disana anggaran tidak cukup, Depsos hanya regulator, penanganan terhadap difabel harus melibatkan kerja sama lintas institusi, termasuk Dishub didalamnya” tegasnya.

 

Sementara itu Wakil Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Sigit W, mengakui belum maksimalnya pelayanan publik terhadap kaum difabel. “Kami berupaya tapi masih banyak kekurangan, kriteria difabel untuk angkutan khusus difabel masih belum jelas, di forum ini kami meminta masukan dari teman-teman difabel” ujarnya.

 

Fakta di lapangan dijumpai banyaknya fasilitas publik yang dulunya menguntungkan difabel tapi tidak dilanjutkan pembangunannya setelah terjadi pembaharuan pada fasilitas publik tersebut, salah satu contohnya adalah efek kejut di jalan raya yang berguna bagi kaum tuna netra untuk mengetahui posisi mereka saat berkendara. (ZNR)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *