oleh

Siapakah yang Sudah Sungguh Merdeka ?

TribunAsia.com

Oleh : Aprilyani Hasanah

banner 336x280

Beberapa hari menjelang peringatan kemerdekaan, 17 Agustus 2018, hari ulang tahun bangsa Indonesia ke-73. Hari kemerdekaan bangsa Indonesia.

Tetapi, betulkah semua manusia bangsa Indonesia sudah merdeka? Ada yang dari lahir sudah mulai susah, mau sekolah orang tua berusaha susah payah.

Setelah sekolah, mulai bekerja dengan lebih susah. Dari pagi buta sudah kerja hingga larut malam, dan besok mengulanginya. Lebih parah lagi jika harus beralamat di Cipinang, atau Nusa Kambangan. Mereka sama sekali tidak merdeka.

Tetapi, siapapun manusia bangsa Indonesia, jika belum dapatkan kepastian  ridho Allah SWT maka sesungguhnya belum merdeka. Kemerdekaan yang sesungguh-sungguhnya dan bersifat abadi ialah dapatkan kepastian ridho Allah SWT.

 

Pendidikan dan Kemerdekaan

Peran dunia pendidikan sangat dibutuhkan dalam mengusahakan implementasi dan habitus dalam skala luas dan mendalam demi kemajuan bangsa sehingga moralitas menjadi sebuah spirit kehidupan masyarakat sekaligus menjadi dasar bertindak para pemimpin bangsa. Dunia pendidikan sudah seharusnya menjadi tempat yang memiliki atmosfir humanis dan bermakna.

Kini tiba saatnya mengimplementasikan esensi kemerdekaan dalam dunia pendidikan lewat berbagai cara. Pertama, pendidikan yang mengimplementasikan kemerdekaan pastinya mengedepankan kemerdekaan diri setiap peserta didik di sekolah. Anak didik memiliki kebebasan dalam belajar tanpa harus menjadi liar atau brutal karena masih ada batas-batas kewajaran dalam dunia pendidikan. Kemerdekaan diri ini erat kaitannya pada penghargaan diri pada anak didik tentang potensi dan peluang untuk berkembang menjadi lebih baik.

Kebiasaan berdialog dan berdiskusi di ruang kelas hendaknya menjadi sebuah keutamaan. Bertanya dan menjawab merupakan pelajaran dasar berkomunikasi sebagai manusia merdeka. Pendidik dan anak didik adalah kumpulan personal yang saling berinteraksi dengan kekhasan masing-masing sehingga untuk itu diperlukan sikap saling menghargai satu sama lain.

Di sekolah Tomoe Gakuen dalam kisah Totto Chan, bertanya adalah pelajaran dasar yang harus dikuasai karena lewat bertanya anak didik akan berlatih berpikir secara logis, eksploratif, dan kritis. Hal ini sangat penting bagi sekolah di Indonesia untuk biasa berdiskusi mencari kebenaran sehingga anak didik kita belajar menjadi pribadi yang merdeka dan menghargai kemerdekaan orang lain.

Kedua, lebih dalam lagi bertolak tentang kemerdekaan dalam pendidikan maka pendidikan mestinya merujuk pada kedalaman intelektual dan nurani. Harus diakui bahwa pendidikan di negeri tercinta ini terlalu menuntut banyak mata pelajaran dan menumpuknya materi ajar sehingga yang terjadi adalah beban dan kekhawatiran bagi anak didik dan orang tua. Sekolah laksana penjara yang membelunggu potensi dan kreasi sehingga melahirkan kemampuan yang dangkal dan kerdil. Celakanya, demi memperjuangkan kompetensi kognitif kadangkala rela mengorbankan nurani dan jatuh pada pengingkaran kejujuran dan integritas.

Kedalaman intelektual merupakan suatu keharusan dalam menghadapi perkembangan global yang serba sporadis dan cepat. Terserat arus perkembangan zaman adalah sebuah bentuk kolonialisasi baru di era modern. Pendidikan harus mengambil perannya dalam menghadapi kolonialisasi zaman ini, yakni dengan mengembangkan kedalaman intelektual untuk menjadi manusia merdeka.

Kedalaman intelektual erat kaitannya dengan: menguasai dasar-dasar keilmuan yang diperlukan untuk studi di jenjang selanjutnya, memiliki kedalaman berpikir, menggunakan kemampuan intelektual demi kebaikan sesama dan lingkungan, mengembangkan studi sebagai gaya hidup. Model pendidikan seperti inilah yang dapat mengembangkan kemerdekaan manusia dalam menciptakan peradaban humanis.

Semuanya itu akan semakin memerdekakan zaman tatkala dunia pendidikan juga secara total mengembangkan integritas moral sehingga anak didik semakin terlatih untuk mengolah hati nurani dan memiliki keutamaan dalam hidup. Kolaborasi integritas moral dan kedalaman intelektual adalah sebuah manifestasi dari pengetahuan dan kebajikan.

Hal ini juga menjadi esensi dari manusia merdeka dalam peradaban baru di era modern. Sebuah harapan besar bahwa sekolah menjadi tempat untuk menanamkan dalam diri anak didik sebuah kebebasan sejati, kebebasan untuk menerima tanggung jawab dan keberanian menghadapi konsekuensi tindakan yang dilakukan.

Ketiga, pendidikan memasyarakat adalah hal pokok yang juga harus segera diimplementasikan untuk mewujudkan kemerdekaan dalam pendidikan. Sekolah tidak akan lepas dari masyarakat karena sekolah bukanlah pabrik yang mencetak robot-robot cerdas yang dapat menggantikan berbagai fungsi kerja manusia. Manusia tidak akan pernah bisa digantikan secara sempurna oleh robot. Sekolah adalah tempat belajar nilai-nilai kehidupan dalam kerangka hidup bermasyarakat sehingga sekolah sangat lekat dengan aspek humanisme yang lekat dengan interaksi dan relasi sosial.

Pendidikan memasyarakat benar-benar terimplikasi dalam segala rutinitas edukatif di sekolah, seperti dalam pembelajaran, ekstrakurikuler, organisasi siswa, dan etika kesantunan pada umumnya. Anak didik belajar di sekolah bukan sekedar mengolah aspek kognitif dengan berbagai materi dan ujian yang begitu kompleks, namun mereka belajar tentang bagaimana menjalani hidup yang begitu kompleks yang tercermin dalam kompleksitas di masyarakat. Inilah inti dari kemerdekaan dalam hidup bahwa anak-anak belajar tentang masyarakat dan di dalam masyarakat itu sendiri.

Akhirnya, kemerdekaan sejatinya bukan sekedar pengalaman historis ataupun kata-kata euforia belaka. Kemerdekaan hendaknya menjadi aktualisasi setiap saat dalam mengusahakan peradaban yang lebih baik. Dunia pendidikan menjadi senjata ampuh dalam membangun habitus bangsa yang berharkat dan bermartabat. Dengan demikian, kemerdekaan adalah pengalaman, perayaan, aktualisasi, dan harapan untuk setiap warga negara dalam menikmati peradaban yang humanis. Merdeka!

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *