oleh

Ketika Seluruh Pulau Lombok Menjelma Bumi Perkemahan

TribunAsia.com 

Oleh : Hidayatullah

 

“Ayah, Kakak minta dibelikan tenda. Kakak mau berkemah di halaman rumah.” Begitu selalu pinta Gabriel setiap kali kami melewati penjual tenda yang menjajakan jualannya di pinggir jalan. Rumah kami yang berada di tengah sawah lapang adalah pusat imajinasi Gabriel untuk berkemah. Hingga peristiwa itu terjadi.

Malam Senin selesai Isya. Pulau Lombok terguncang hebat. Gempa 7 skala Richter. Ini gempa besar yang kedua setelah seminggu lalu Lombok digoyang gempa 6 skala Richter. Semua berhamburan. Jerit tangis ketakutan. Takbir membahana sebagai pengakuan Allah Maha Besar. Tempat berserah. KepadaNya muara segala keluh kesah. Dan malam itu, sebuah periode kehidupan baru seperti terbentang. Gempa tidak terjadi sekali. Namun berkali-kali.

Sebuah komando dari alam. Kami tidur di tempat terbuka. Lapangan luas. Tanah kosong. Sawah-sawah yang tidak ditanami. Adalah rumah paling aman bagi kami. Ketika mata akan terpejam, bumi kembali bergerak. Kami pun hanya bisa beristigfar. Tenda darurat sudah berdiri. Hujan yang sedari sore turun mulai mereda. Listrik mati. Gelap. Pekat. Ketika tak ada lagi cahaya, hanya cahaya Mu di hati kami sebagai penuntun. Ya Allah…

Senin sore listrik menyala. Kami pun bisa melihat berita melalui televisi. HP pun bisa dihidupkan. Pesan bertubi-tubi. Puluhan panggilan tak terjawab. Sahabat, Saudara, kenalan, guru, santri, dan entah siapa lagi yang kebetulan mengetahui nomer hp saya, mencari informasi keadaan kami di Lombok. Kami terharu dengan kepedulian mereka. Ya Allah…

Melihat informasi tentang kondisi saudara kami di Lombok Barat dan Utara yang sangat memprihatinkan, kami bergerak mengumpulkan bantuan. Walau tak seberapa, sungguh kami ingin melakukan sesuatu. Walau tak ternilai sekalipun. Kami mencari informasi jalan menuju Kabupaten Lombok Utara (KLU). Isu simpang siur beredar bahwa jalan ke KLU ditutup. Akses keluar masuk KLU tidak bisa dilewati karena longsor, jembatan rusak dan lainnya. Kami menelepon beberapa teman. Kami juga membuka Google Map. Informasi jalan dan lalu lintas aman. Ada beberapa titik longsor dan jembatan rusak tapi masih bisa dilewati. Kami pun memantapkan niat. Selasa pagi kami pun berangkat.

Bismillahirrahmanirrahim. Kendaraan kami bergerak dari kampung Sadah Janapria. Di sawah sebelah barat kampung Sadah berdiri tenda. Menuju Gunung Paing tenda kiri kanan jalan, di halaman rumah warga. Di Kuang dan terus semakin ke barat. Selalu ada tenda. Sampai tak terasa sudah keluar dari Lombok Tengah. Alhamdulillah, sepengamatan kami, tidak ada korban fisik bangunan yang rusak di sekitar jalan yang kami lewati di Lombok Tengah. Hanya satu dua genteng yang jatuh atau tembok bangunan yang retak.

Mobil terus melaju. Jalan menuju ke kota Mataram begitu lengang. Tidak seperti biasanya. Dari Sweta menuju Utara, kerusakan semakin nyata. Rumah Sakit Jiwa di Selagalas atapnya ambruk. Semakin ke Utara kerusakan semakin bertambah. Di Gunung Sari rumah-rumah warga, masjid, pertokoan, sekolah, dan lainnya banyak yang rusak berat. Tenda-tenda semakin banyak. Semakin ramai. Semakin menyedihkan. Semakin memprihatinkan. Aku tak kuasa mengambil gambar. Hanya sesekali saja. Tak tega.

Melewati kerumunan warga mereka menyetop kendaraan yang kami tumpangi. “Pak, minta air minum. Haus, Pak. Lapar, Pak.” Kami hanya meminta maaf, tak mampu membantu mereka. Jumlah mereka sangat banyak. Yang kami bawa sedikit dan itu pun sudah ada yang punya; mereka adalah para santri di Pondok Pesantren Al-Istiqomah Kapu Jenggala Tanjung.

Memasuki daerah Kabupaten Lombok Utara kondisi semakin mengenaskan. Kiri kanan bangunan hancur. Kantor Polisi, Rumah Sakit, Puskesmas, Masjid, dan semuanya, rusak berat. Banyak bangunan yang rata dengan tanah. Ada sebagian yang terlihat seakan tangguh berdiri menghadapi gempa, namun temboknya retak, kusennya sudah lepas, tiyangnya sudah patah. Dan kerumunan warga semakin banyak. Mereka meminta air. Mereka haus. Mereka lapar. Wajah mereka begitu lelah. Mobil ambulan meraung-raung bolak balik. Pasar dan toko sepi. Kegiatan ekonomi lumpuh total.

Lapangan Tanjung menjadi pusat pengungsian. Bermacam rupa tenda berdiri. Korban dan relawan gempa menyatu. Saling menguatkan. Mobil kami lewat ke Utara. Sebentar lagi memasuki kawasan Pondok Pesantren Al-Istiqomah. Beberapa puluh meter sebelum melewati plang pesantren kami melihat Pom Bensin yang baru saja selesai dibangun, ambruk sebagian bangunannya. Pagar yang mengelilingi pun nyungsep ke tanah.

Welcome to Istiqomah Boarding School, tulisan itu terpampang pada beton papan nama pesantren. Minggu lalu kami berkunjung ke sini dan semua baik-baik saja. Namun sekarang. Ya Allah. Dengan apa akan aku gambarkan. Gerbang pesantren rusak. Tanahnya menganga. Koperasi di depan kediaman TGH. Hidayatullah Jazri Lc, rusak parah. Tidak jauh berbeda dengan rumah beliau. Masjid untuk santri putra nyungsep. Ruang kelas hancur. WC dan fasilitas MCK santri yang baru beberapa minggu selesai dibangun tak ada yang tersisa. Beberapa bagian halaman pesantren terbelah. Kawasan asrama putra putri menjelma reruntuhan yang membuat siapapun yang memandangnya tak akan mampu berkata-kata. Hanya air mata. Hanya doa.

Minggu lalu, kami melihat lapangan penuh dengan tenda. Para santri sedang berkemah. Suara bariton Pembina Pramuka mereka memberi instruksi. Anggota Pramuka sigap menangkap aba-aba. Sebagian bernyanyi. Sebagian menghafalkan sandi. Yang lain ada yang mengaji. Pramuka Santri Al-Istiqomah ajang kreasi, ajang uji nyali, ajang melatih mental. Dan sekarang, …..

Hamparan tenda bertambah luas. Ini bukan Pramuka, Kawan. Mereka mengungsi. Duduk berteduh di bawah tenda menatap Pondok Pesantren Al-Istiqomah yang luluh lantak. Begitu pun kampung di sekitarnya. Tak ada yang tersisa selain iman dan tawakkal kepada Ilahi Robbi.

“Saya tidak sedih, tidak memiliki rumah. Tidak apa-apa rumah saya rusak.” Ustadz Hidayatullah Ahmad, sahabat saya, tegar mengurai cerita.

“Ruang kelas santri Putri, WC dan beberapa fasilitas Pesantren baru selesai kami bangun. Ratusan juta dihabiskan. Namun kehendak Allah lain.” Alumni PP Al-Amien  Prenduan Madura dan Univ Al-Azhar Kairo Mesir itu menyunggingkan senyuman.

“Sekitar 400-an jiwa penghuni pesantren malam itu berhamburan ke lapangan. Hanya jerit takbir yang terdengar mengiringi suara gemuruh bangunan yang roboh satu persatu. Sekarang kami ingin membangunkan tempat untuk solat berjamaah. Anak-anak TK dan SD harus segera kami berikan kegiatan agar mengurangi trauma,” beliau mengurai dengan runut seperti kebiasaannya dalam menyampaikan Liputan Peristiwa  ketika aktif di Media Azhari Terobosan. Ya Allah betapa tabah hatimu saudaraku.

“Astagfirullah. Gempa lagi.” Taufik dan Kak Syamsul berteriak spontan karena tiba-tiba terjadi gempa.

“Tenang saja. Jangan panik. Itu sudah biasa. Gempa skala kecil terus terjadi. InsyaAllah aman.” Beliau menenangkan.

“Malam itu Pesantren seperti dikocok. Bukan hanya badan kami yang diguncang keras. Tapi juga bangunan. Bahkan tanah tempat kami berpijak.”

Aku tak kuat berlama-lama. Perasaanku hancur berkeping-keping. Aku ingin segera pergi. Lalu kembali. Membawa sejumput asa barangkali.

“Tunggulah sebentar. Saya tidak punya teman bicara.” Beliau menjabat erat tanganku. Memintaku bertahan barang sebentar. Permintaan yang tak mampu kutolak.

“Yang penting kami semua selamat!”

Tegaklah berdiri, Sahabatku. Dengan Pesantren ISQOMAH kau tebarkan manfaat. Maafkan kami tak mampu berbuat banyak.

 

اللهم احفظنا والمسلمين والناس أجمعين. آمين

Untuk sahabat yang ingin membantu recovery Pesantren bisa transfer dana ke rekening Bank Mandiri :  9000001823229

Atas nama: Hidayatullah.

Narahubung: 081339367113

Atau 081808597039

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *