oleh

Dilema Politik Zulkifli Hasan, Sebuah Analisa Singkat Seorang Kader PAN

TribunAsia.com

Oleh : Adib Zain

banner 336x280

 

Politikus yang bernama Zulkifli Hasan atau biasa dipanggil Zulhas,  dikenal sangat lincah dalam merebut kekuasaan dan melakukan kapitalisasi dari posisi strategisnya di PAN sekarang maupun di dalam jabatan pemerintahan baik legislatif maupun eksekutif.

Sebuah stasiun televisi di tanah air pernah membuat acara dialog dengan tema ‘Zigzag Zulhas’, maka wajar dia ibarat ‘gasing’ kalau tidak berputar berarti kalah dan ‘mati’ baik secara politik, mungkin juga ada ‘kasus’ lain yang mematikan langkah Zulhas selamanya, karena itu Zulhas dilema antara ‘Gandaria baca Amien Rais, Cikeas baca SBY dan Istana baca Jokowi’, karena dia telah ‘tersandera’ oleh perbuatan sendiri. Nah, apakah PAN akan terkena dampaknya?

Sebagai pendiri PAN, pernah menjadi Ketua DPW di Jawa Barat dan kader partai, saya menganggap Zulhas adalah ‘bagian dari masalah’ PAN. Partai ini semakin tidak jelas posisinya dibelantara politik Indonesia. Mendapat cibiran dimata publik, melemahkan posisi PAN bersama mitra koalisi penantang Jokowi dan tidak dipercaya penuh oleh Jokowi, kata pepatah : “Datang tidak menggenapkan, pergi tidak mengganjilkan”. Hanya tertolong oleh manuver Amien Rais, Ketua Dewan Kehormatan PAN yang selalu peduli dengan kondisi bangsa dan negara, sementara Zulhas hanyalah melakukan ‘politik gincu’ setiap kali menghadap tiga kekuatan tersebut.

Terindikasi, Rakernas PAN sempat ditunda karena ‘ketakutan’ Zulhas mengambil keputusan menyangkut Calon Presiden dan Wakil Presiden yang akan diusung oleh PAN, sehingga ‘bola panas’ dilepas ke bawah yaitu DPW-DPW Provinsi disuruh bersuara seolah-olah itu keputusan datangnya dari kader, sementara Zulhas bermain ‘diketiga kaki’ itu. Jika kader dibawah memutuskan Jokowi dua periode Zulhas dapat double bonus. Tapi jika sebaliknya dia akan ‘buang  badan’, itu aspirasi wilayah, DPP hanya menampung saja, selamat lah dia. Padahal kita sangat tahu, Amien Rais dan kader sebagian besar ingin #2019GantiPresiden.

Alasan rasionalnya, menurut Zulhas kira-kira atas penundaan Rakernas, karena gugatan Presidential Treshold 20% dan ‘JK’ boleh ikut lagi Cawapres atau tidak, masih dilakukan judicial review di MK dapat dipahami. Tetapi ‘Ijtima Ulama’ yang dihadiri Zulhas dan Amien Rais, sudah mengusulkan nama Prabowo sebagai Capres dan pilihan antara Salim Aljufri atau Abdul Somad sebagai Cawapres. Menurut saya yang biasa mengikuti Kongres dan Rapat Kerja Nasional ( Rakernas ) PAN, pokok bahasan seperti ini harusnya sudah bisa diputuskan segera jika Zulhas dan beberapa elit PAN diluar Amien Rais, tidak tersandera langkahnya.

Penundaan Rakernas PAN dalam penetapan Capres dan Cawapres, menunggu keputusan DPW-DPW dari Provinsi sangat berbahaya, karena surat dukungan terkadang tidak dibuat melalui mekanisme AD/ART dan Peraturan Partai, bisa sangat tergantung kepada keinginan Ketua DPW PAN setempat. Tidak melalui sebuah keputusan Rapat Kerja Wilayah, sebagai institusi pengambilan keputusan strategis ditingkat Provinsi, sehingga sebagai contoh telah beredarlah surat dukungan Ketua DPW Kepri dimedia sosial yang mendukung Jokowi dua periode, inilah sekoci Zulhas yang ‘bocor’.

Jika saja, Dilema Politik Zulhas ini terus berlanjut, maka PAN akan menanggung ‘coattail effect’ dalam Pileg mendatang karena kredibilitas politik Zulhas dalam memimpin PAN diragukan dan maka kelompok #2019GantiPresiden yang terdiri dari kekuatan Islam dan Rakyat yang mengalami kesulitan sosial dan ekonomi selama pemerintahan Jokowi tidak akan memilih PAN dan calegnya sebagai bentuk hukuman politik.

Bagi Zulhas hanya ada dua pilihan, mengikuti arus mainstream PAN yang dipimpin Amien Rais segera mendukung Prabowo Abdul Abdul Somad ( PAS ) atau mendukung Jokowi Dua Periode, dua-duanya berisiko untuk seorang Zulhas, yang pertama ‘perselingkuhan politiknya’ menuai badai dimana MenPANRB harus mengundurkan diri dan dosa politiknya bisa dicarikan celah hukum untuk dikriminalisasi.

Sementara kalau berlindung di Istana, bisa jadi Zulhas akan menghadapi Kongres Luar Biasa.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *