oleh

Membaca JK

TribunAsia.com

Oleh : Msalehmude

 

Saya termasuk orang yang bisa menklaim diri JK’s Man. Saya pernah bekerja di kantor JK, era SBY-JK, 2004-2018. Saya sempat melihat dan belajar membaca sebagian lembaran gaya dan pikiran politik ala JK. Tulisan ini, saya bagi ketiga bagian. Semoga bermafaat.

 

Bagian Satu

Bagi saya pak JK adalah suhu (guru) politik, politisi senior nomor wahid, dan disegani  di Indonesia. JK itu memiliki pengikut setia yang banyak, massanya riil di Palang Merah Indonesia dan Dewan Masjid Indonesia, belum termasuk warga binaannya di Indonesia bagian Timur, dan lebih khusus lagi di organisasi sosialnya, Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS). Di kantong JK terdapat beberapa putra mahkota yang dinilai tepat menjadi cawapres Jokowi atau sekaligus menjadi penantang Jokowi di pilpres April 2019.

JK, kini irit bicara di media, topik pilpres. Sebagian orang menduga, JK sekarang masih menunggu nasibnya, keputusan Mahkamah Konstitusi, apa masih boleh mendampingi Jokowi atau dilarang konstitusi. Jawabannya. Kita tunggu keputusan final MK.

 

Bagian Dua

Jika Anda sepakat saya bahwa pak JK adalah guru politik dan politisi senior yang disegani hari ini. Ada baiknya Anda mereview peristiwa menjelang pilpada DKI Jakarta. Semua lembaga survei dan pengamat menjagokan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Tapi, kemunculan nama Anies Baswedan dari kantong JK, menjungkirbalikkan hasil survei, Ahok kalah lebih 10% dari Anies di putaran kedua pilkada DKI, 2017. Hari pertama setelah kemenangan versi quick count, Anies menemani JK sarapan pagi. Orang banyak pun kemudian tahu, JK ada di balik Anies.

JK adalah negarawan yang ingin melihat bangsa dan negerinya maju, sederet dan semaju negara lain, terutama sesama negara ASEAN. JK mudah murka jika ada orang yang mencoba pesimis atau menghina bangsa dan negerinya.

JK paham modal kepemimpinan dan politik Jokowi. JK sedang berpikiran keras dan berhitung cermat tentang peta politik di pilpres 2019. Jika JK tidak bisa mendamping lagi Jokowi karena aturan konstitusi, kendati Jokowi masih berharap pada JK. Maka saya menduga ada dua pilihan JK.Pertama, menyodorkan nama putra mahkotanya untuk mendamping Jokowi atau pilhan kedua, dan ini sangat memungkinkan, berdiri di kubu penantang Jokowi. Yang mana pilihan JK, kita tunggu beberapa hari ke depan.

 

Bagian Tiga

Kenapa JK melawan Jokowi? Dalam politik semua bisa terjadi, tidak ada lawan dan teman abadi, yang ada kepentingan, kata adagium politik.

Jika JK memutuskan melawan Jokowi di pilpres 2019, JK pasti sudah punya ada alasan kuat. JK adalah saudagar, pengusaha sukses yang memiliki seribu satu akal. Mungkin, salah satu alasan kuat JK, “saya ingin melihat bangsa dan negeri saya lebih baik dari hari ini.” JK paham betul gaya, kekuatan politik, dan brutus-brutus politik di sekitar kubu Jokowi.

Jika ini pilihan JK, bergabung penantang Jokowi, kuat dugaan pasangan yang didukung oleh JK punya peluang menang, seperti tesis lanjutan seorang akademisi di markas NATO, Jerman, kemana pun JK memihak di pilpres 2019, pasangan itu bisa menang, karena JK memiliki massa riil di negaranya dan dikenal sebagai saudagar juru damai di dalam dan luar negerinya.

Siapa putra mahkota JK di piplres 2019, apakah itu Anies lagi? Ataukah dua jenderal di saku JK, yang pernah saya tulis, Komjen Pol Drs. Syafruddin atau Letjen TNI (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin? Cuma JK dan Tuhan yang tahu.

 

Tanah Abang, Senin, 6 Agustus 2018.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *