oleh

Kali Item dan Kita

TribunAsia.com

Oleh : Tatak Ujiyati

banner 336x280

 

Kali Item tak lagi bau. Saya sih tidak tahu teknisnya. Tapi ada tuh hasil pengukuran tingkat polusi yang dilakukan Pemda DKI, yang menunjukkan bau dan kekeruhan air sungai berkurang. Gubernur, Ketua DPRD, Wapres dan masyarakat juga sudah kasih testimoni.

Kali Item sempat dijuluki sebagai WC terpanjang di Asia Tenggara. Bagaimana tidak, semua sampah dan limbah masuk ke sana. Ribuan rumah membuang isi WC dan limbah rumah tangga. Ada juga sekitar 150 pengrajin tahu dan tempe yang setiap hari membuang limbahnya ke sungai. Bisa dibayangkan jika Kali Item puluhan tahun sangat terpolusi.

Adalah semangat Gotong Royong yang menyelamatkan Kali Item. Ada unsur Pemda DKI, Pemerintah Pusat dan kelompok masyarakat. Menurut informasi dari Dinas Sumber Daya Air, Pemda DKI sebetulnya telah melakukan perawatan atas Kali Item sejak 2016 untuk persiapan Asian Games. Pemda melakukan pengerukan sungai, kemudian secara reguler membersihkan sungai dari sampah. Got juga dibersihkan secara bertahap. Tahun 2018 ini Pemda menyelesaikan pembersihan got, membersihkan sampah sungai secara reguler, melakukan pemagaran di sepanjang sungai, memasang Nano Bubble, dan waring.

Jadi tidak benar kalau Dinas PSDA kendor semangat kerjanya pada saat ini, semata karena ganti Gubernur. Lihat saja, Anies – Sandi mengukuhkan komitmennya untuk konservasi waduk dan sungai dan memasukkannya dalam salah satu kegiatan strategis daerah Pemda DKI saat ini. Mendapatkan legalisasi kebijakan, pekerjaan SKPD dalam merawat sungai, dilakukan secara terukur dan terencana melalui program dan anggaran dirancang berkelanjutan.

Bantuan Kementerian PUPR dilakukan oleh Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung- Cisadane (BBWSCC) yaitu dengan cara mengurangi debit air kotor kali item dengan memompa dialirkan ke Kali Sunter. Jadi berlebihan jika ada yang mengatakan Kementrian PUPR mengambil alih. Ini adalah kerja birokrasi pemerintahan Bung. Tindakan birokrasi harus ada landasan aturan hukumnya. Apa coba aturan hukum untuk mengambil alih kewenangan Pemda? Kewenangan Pemerintah Pusat dan Pemda sudah ada pembagiannya. Jadi jelas tak ada pengambilalihan, yang ada adalah kerjasama.

Beberapa waktu lalu Komunitas Kagama Peduli Sampah yang digawangi oleh Pak Sodiq Suhardianto dan Titien Sutrayanti menawarkan urun rembug mengatasi bau Kali Item. Bersama dengan Dinas PSDA, komunitas itu menyuntikkan mikroba untuk mengurangi bau dan dilakukan setiap 3 hari selama 3 minggu. Bersama Pemda DKI, mereka juga melakukan bimbingan teknis pengolahan limbah industri tempe di kampung dekat Kali Item.

Keren ya. Kerjasama tiga pihak – Pemprov DKI, BBWSCC, dan Kelompok Masyarakat dapat membantu mengurangi bau Kali Item. Tapi ini tak berhenti sampai di sini. PR berikutnya, adalah bagaimana menjaga agar tingkat polusi Kali Item tetap rendah. Dan itu harus dilakukan dengan mengendalikan sumber polusi yaitu kita, masyarakat. Untuk tak begitu saja membuang sampah dan limbah kita ke sungai.

Oh ya walaupun Kali Item ini menjadi trending topik. Saya menduga banyak dari kita yang belum pernah lihat Kali Item. Nih kamu bisa lihat video dari Dinas PSDM ini. Nggak sejelek gambaran yang ada di medsos kan ya. Bagi yang di luar kota, silahkan sekali-kali piknik ke Kali Item jika ada kesempatan.

PS: Ini tulisan pribadi. Saya awam soal konservasi sungai dan menulis ini lebih pada perspektif tata pemerintahan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *