oleh

Innallilahi, Korban Gempa di Lombok Utara Ketika Shalat Isya Berjamaah Hingga Kini Belum Diketemukan

Jakarta, TribunAsia.com – Korban gempa dikecamatan Tanjung, Lombok Utara ketika itu tengah terjadi bertepatan saat warga menunaikan shalat Isya belum bisa ditangani oleh tim penanggulangan bencana hingga saat ini informasi belum bisa diperoleh dari Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB.

Menurut Sutopo Purwo Nugroho di Gedung Graha BNPB Jakarta, korban yang mengalami reruntuhan bangunan termasuk tempat sarana ibadah belum bisa dipastikan dikarenakan keterbatasan alat berat dan infrastuktur jalan yang rusak. Tidak hanya infrastruktur, akan tetapi dampak dari gempa mengganggu akses logistik dan termasuk tidak mencukupinya kebutuhan pokok para korban.

banner 336x280

“Kecamatan Tanjung, Lombok Utara masjid yang roboh korban belum tertangani. Evakuasi dilaksanakan secara manual korban sampai sekarang belum bisa dievakuasi. Distribusi logistik di Lombok Utara logistik belum mencukupi kebutuhan korban, toko tutup pasar masih banyak kosong karena berantakan. Khususnya daerah yang berada di gunung-gunung jadi distribusi belum dapat dijangkau dan belum bisa dilakukan, bantuan banyak didatangkan baik dari pemerintah pusat,” jelas Sutopo dihadapan wartawan, Senin (6/8/2018).

Baca Juga : BNPB Konferensi Pers Tentang Bencana Gempa Lombok Hingga Mendeteksi Terjadinya Tsunami

Saat ini, kata Sutopo, bantuan melalui TNI dikerahkan dengan pesawat Hercules dari Pangkalan udara Halim Perdana Kusuma, Jakarta. Serta baik dari Polri turut dikerahkan sebanyak 400 personil dan Krisis Center termasuk menangani wisatawan di Lombok dan Bali.

“Bantuan dari TNI 3 kerahkan pesawat herkules dari marinir dari Bandara Halim Perdanakusuma. 1 kompi zeni tempur Kostrad. Polri 400 orang dan 2 helikopter. Krisis Center baik Lombok dan Bali terkait wisata. Pelni menyediakan kapal motor dari Surabaya secara gratis baik mengakut mobil,” imbuh BNPB di Jakarta.

BNPB juga menjelaskan, akibat gempa sistem penerangan belum maksimal serta Basarnas mendirikan dapur umum untuk menunjang kebutuhan makanan para pengungsi secara darurat.

“Lombok Utara timur saat ini masih padat. 35% sistem listrik belum normal. Dapur umum masih terbatas satgas bantuan dapur umum Basarnas terus melakukan penanganan,” ucapnya.

Lebih lanjut, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB menemukan kendala surutnya air laut penyebab salah satu yang mempengaruhi proses evakuasi korban. “Evakuasi terkendala air laut surut di Gili Trawangan. Jumlah awal sekitar 1000 hampir 700 belum terevakuasi. Demikian ada isu disana Gili Trawangan harus dikosongkan karena ada tsunami,” sambungnya.

Baca Juga : Tanggapan PVMBG Terkait Gempa Bumi Hebat 7.0 SR di Lombok Utara

Sutopo berharap, para korban untuk bersikap tenang dan bagi pengelola resort hotel dan wisatawan lokal dan mancanegara dihimbau agar tidak keluar ruang terbuka serta menghindari isu-isu yang tidak bertanggung jawab.

“Bagi para turis asing wajib harus kuat kondisi aman tidak ada ancaman tsunami ini diperhatikan agar tetap tenang. Bagi pengelolaan resort dan hotel jangan keluar lebih baik tetap didalam. Karena ada isu tsunami dan gempa susulan itu isu hoax. Gempa kita tidak bisa prediksi sama sekali. Sampai saat ini turis yang ada di Gili Trawangan masih berada Gili Trawangan,” tutur Sutopo.

Sutopo menambahkan saat Konperensi Pers, pada Senin (6/8) para pengungsi terbelah menjadi 2 bagian dikarena berbagai kondisi antara lain pengungsi yang dianggap telah mandiri dan tidak ingin bercampur bersama dengan pengungsi lainnya.

“Ada pengungsi yang mandiri pengungsi yang tidak mau mengisi bersama pengungsi lainnya,” ungkapnya. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *