oleh

BNPB Konferensi Pers Tentang Bencana Gempa Lombok Hingga Mendeteksi Terjadinya Tsunami

Jakarta, TribunAsia.com – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan dalam Konferensi Pers di Gedung Graha BNPB Jalan Pramuka Kav. 38 Jakarta Timur tentang penanganan dampak gempa 7 Skala Richter yang mengguncang wilayah Provinsi NTB dan Lombok.

“Kami akan menyampaikan tentang perkembangan penanganan dampak gempa 7 skala Richter yang mengguncang wilayah Provinsi NTB pertama saya sampaikan kronologinya kronologi di saat lebih dari 10.000 masyarakat masih mengungsi di Lombok Timur dan Lombok Utara akibat gempa 6,4 Skala Richter yang mengguncang tanggal 29 Juli 2018 tiba-tiba tadi malam dikejutkan oleh gempa, pertama BMKG merilis 6,8 skala Richter kemudian dimutakhirkan gempa 7 skala Richter dengan episenter di darat kedalaman 18 km barat laut Kabupaten Lombok Timur, dengan kedalaman 15 KM pada 5 agustus 2018 pukul 18.48,” papar Sutopo Purwo Nugroho, Senin (6/8/2018).

banner 336x280

Guncangan pun sangat dirasakan dibeberapa daerah sekitar Nusa Tenggara Barat termasuk mencapai Pulau Jawa. Kepanikan akibat gempa 7 SR yang dialami oleh masyarakat korban gempa kini mengalami kondisi trauma. Tidak hanya itu, BMKG memberikan peringatan dini Tsunami mengundang perhatian publik dan masyarakat berhamburan keluar rumah untuk mencari lokasi yang aman.

“Guncangannya sangat keras sekali dan masyarakat dalam kondisi trauma mereka semakin panik gempa di wilayah Lombok Sumbawa dan seluruh Bali, termasuk Jawa Timur bagian timur. Kemudian BMKG mengaktivasi tsunami peringatan dini tsunami kondisinya semakin panik, masyarakat berhamburan keluar rumah, berada di jalan jalan dalam kondisi terjadi guncangan gempa yang sangat keras sehingga BPBD  merintahkan agar masyarakat menjauhi pantai-pantai yang ada,” imbuh BNPB.

Warning Tsunami diberlakukan di 2 Kabupaten antara lain Lombok Utara dan Lombok Timur dengan status waspada. BNPB turut menjelaskan terkait status waspada tersebut, dikarenakan masyarakat banyak yang tidak memahami. Artinya, waspada itu ketinggian maksimum tsunami hanya 1,5 meter.

“Warning tsunami itu hanya berlaku di 2 Kabupaten yaitu Kabupaten Lombok Utara dan Kabupaten Lombok Timur bagian utara dengan status waspada. Artinya waspada itu ketinggian maksimum tsunami hanya satu setengah meter. Namun, masyarakat di sana tidak tahu status waspada itu seperti apa, bayangan mereka tsunami besar sehingga itulah yang menimbulkan perubahan,” jelas Sutopo.

“Warga mengungsi mencari tempat-tempat yang lebih aman dan gempa dirasakan beberapa tempat di daerah Mataram 7 MMI bangunan-bangunan yang konstruksi tahan gempa itu biasanya mengalami kerusakan ringan apalagi bangunan yang konstruksinya tidak tahan gempa pasti akan mengalami kerusakan yang parah,” lanjutnya.

Dampak gempa serta guncangan yang terjadi konstruksi bangunan mengalami kerusakan di Pulau Jawa mulai dari Banyuwangi, Jember kemudian Situbondo dan Malang, Jawa Timur. Tsunami terdeteksi di beberapa tempat serta pantai Benoa di Bali.

“Kemudian juga di Lombok Timur, Lombok Utara merasakan guncangan dengan intensitas lebih dari 7 MMI, 5 Denpasar, Karangasem 5-6 MBB artinya bangunan mengalami kerusakan ringan jika membunuh konstruksi standar Jawa Timur juga Mulai dari Banyuwangi, Jember kemudian Situbondo, Malang merasakan guncangan gempa. Tsunami memang terdeteksi ada di beberapa tempat di Lombok Utara sebelah utara dan di Lombok Selatan serta pantai Benoa Bali,” ungkap Sutopo.

Diperkirakan ketinggian Tsunami mulai dari 2 – 13,5 CM maka, BMKG memberikan peringatan dini pada 5 Agustus 2018 pada pukul 20.25 Wib. Dari peringatan itu, masyarakat diharapkan dapat kembali kerumahnya yang sebelumnya mengungsi di perbukitan karena diyakini akan berdampak gempa susulan.

“Tapi tinggi tsunami hanya 2 cm sampai dengan 13 setengah cm. kemudian BMKG mengakhiri peringatan dini tsunami pada 5 agustus 2018 pukul 20 lebih 25 menit ke Indonesia bagian barat dan masyarakat boleh kembali ke rumahnya, namun masyarakat tetap memilih berada di bukit-bukit, di tempat pengungsian dan gempa susulan masih terus berlangsung sampai dengan hari ini pukul 08.00 lebih dari 132 kali kejadian gempa, penyebabnya lombok itu memang rawan terhadap gempa, Sumber gempanya yang terjadi tadi malam sama dengan Gempa yang terjadi tanggal 29 Juli yaitu berasal dari sesar naik flores yang dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan naik,” terang Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *