oleh

Duplik Penasehat Hukum dr.Helmy Atas Replik JPU

Jakarta, TribunAsia.com – Berdasarkan perkara pidana Nomor: 283/Pid.B/2018/PN.JKT.TMR

Beberapa salinan yang terlampir didalam Duplik Penasehat Hukum atas Replik penuntut umum turut dipaparkan mulai dari identitas lengkap terdakwa Ryan Helmy alias Helmy dan fakta hukum yang yang sebenar-benarnya diterima dari tim kuasa hukum terdakwa.

Adapun dari salinan tersebut mulai dari awal kejadian pada tanggal 9 November 2017 sekitar pukul 11.30 WIB, terdakwa berada di Pondok Unggu Permai, Bekasi hingga menuju Klinik Az Zahra Medical Center No. 352 Jalan Dewi Sartika, Jakarta Timur dengan menumpang jasa transportasi online melalui driver Go-jek.

Dalam persidangan terdakwa Ryan Helmy bacakan kesimpulan-kesimpulan diruang utama Pengadilan Negeri Jakarta Timur. (31/07/18)

Setiba, di Klinik dengan tujuan bertemu dengan (korban) dr. Letty terkait dengan masalah rumah tangga hingga mengajukan gugatan cerai pada tanggal 3 Juli 2017 di Pengadilan Agama Jakarta Timur.

Baca Juga : Dokter Pembunuh Istrinya, Bacakan Kesimpulan di Hadapan Hakim Mulai dari Perceraian, Depresi dan Hingga Berakhir Penembakan

Selanjutnya, turun dijelaskan didalam salinan Duplik, bahwa pada bulan Agustus 2017, terdakwa Helmy pernah melakukan konsultasi dan menangani gangguan kejiwaan kepada Prof. Dr. H Suharko Kasran yang mana terdakwa mengidap Skizofrenia Borderline dan terdakwa turut pula melakukan konsultasi serta pengobatan kepada dr. Maria Poluan yang mendiagnosis terdakwa pengidap “psikotik Borderline”.

Atas konsultasi itu, terdakwa disarankan oleh Prof. Dr. H Suharko Kasran untuk menjalani perawatan dirumah sakit jiwa.

Lebih jauh, karena mengalami depresi berat dilatar belakangi keretakan problem rumah tangga dan sering mengunjungi rumah rekan-rekannya dan menginap diantaranya dirumah saksi Chojin di Tangerang serta di rumah saksi Sunarto di Bekasi.

Karena mengalami gangguan kejiwaan, terdakwa Helmy pada bulan September 2017 membeli sepucuk senjata api untuk dipergunakan latihan menembak sebab mulai dari usia muda terdakwa Helmy hobi menembak.

Senjata api yang diperoleh dibeli dari salah seorang yang bernama Sukarno, anggota TNI di wilayah Jonggol lengkap dengan peluru dengan harga Rp 30 juta.

Baca Juga : Pembacaan Pledoi Terdakwa Sang Penembak dr.Letty Didampingi 2 Orang Kuasa Hukum

Karena dinilai tidak bagus senpi yang dibeli dari Sukarno digunakan untuk berlatih lalu terdakwa membeli kembali senpi senilai Rp 21 juta dari R. Roby Sugiarto berjenis revorver.

Singkatnya, terdakwa pada 9 November 2017 mendatangi Klinik Az-zahra dari Pondok Unggu, Bekasi dengan tujuan untuk membicarakan tentang hubungan rumah tangganya. Saat diklinik dr. Letty meminta terdakwa Helmy untuk keluar area tersebut lalu sontak mengundang emosi dan halusinasi terdakwa hingga berakhir penembakan 5 kali berturut-turut. Usai kejadian berdarah itu, terdakwa menyerahkan diri ke Polda Metro Jaya dengan tidak sadarkan diri dengan menggunakan ojek online.

Sementara, dari keterangan Penasehat Hukum terdakwa Helmy jaksa penuntut umum pada tuntutan dan Repliknya dianggap tidak berdasar.

Serta terkait senjata api yang dibeli oleh terdakwa turut didebatkan oleh kuasa hukum terdakwa.

Baca Juga : Hakim dan Jaksa Pertanyakan Senjata Api, Kedatangan dr.Helmy Tembak Istri dengan Aplikasi Gojek

“JPU pada tuntutan dan repliknya kurang berdasar, di katakan bahwa terdakwa membeli pistol hanya untuk melukai atau membunuh istrinya padahal tidak, terdakwa membeli pistol hanya untuk jaga diri saja tidak ada niat untuk membunuh, itu terjadi secara spontan saja, karena pada saat itu istrinya tidak mau di ajak untuk membicarakan mengenai rumahtangga mereka,” papar Jeku Makasaehe kepada TribunAsia.com, Jum’at (3/8/2018).

Tim Kuasa yang menangani kasus terdakwa Helmy diantaranya yaitu, Moh Rifa’i, Jeku Makasaehe, Bahder Johan, Ainul Yaqin dan Taburan Simbolon. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *