oleh

Keluarga Terdakwa Dhawiyah Jadi Saksi Fakta Mulai Awal Penangkapan Serta Barang Bukti Sabu

Jakarta, TribunAsia.com – Saksi fakta saat penggeledahan dirumah keluarga besar Elvi Sukaesih dimintai keterangan perihal barang bukti sabu-sabu dan alat hisap yang diketemukan dilokasi kejadian saat bermula Muhammad kekasih Dhawiya Zaida ditangkap terlebih dahulu di garasi.

Adapun saksi yang berjumlah 3 orang itu antara lain kakak kandung dan kakak ipar Dhawiya ketika itu tengah berada didalam rumah tersebut dibilangan Cawang, Jakarta Timur.

banner 336x280

Zaenal selaku saksi, kala itu tengah dikamar menonton televisi tiba-tiba pintu kamarnya diketuk oleh Muhammad serta polisi yang hendak mengeledah kamar lalu melakukan pemeriksaan kepada Muhammad.

“Saya pulang (didalam) dikamar ada yang ketok muhammad nanya Dawiyah ada polisi. Polisi yang buka dia bilang ngapain. Saya bilang nonton tv. Saya bilang ini ruang keluarga. Polisi nggak masuk kemudian keluar ikut polisi kemudian muhammad diperiksa,” kata Zaenal beri kesaksian saat menyaksikan penangkapan, Selasa (24/7/2018).

Keluarga Dawiyah memberikan kesaksian di persidangan PN Jakarta Timur. (24/07/18)

Untuk itu, Ketua Majelis Hakim yang dipimpin oleh Syafrudin Ainor Rafik serta didampingi oleh Barita Sinaga dan Siti Rochmah, mempertanyakan saksi seputar penangkapan oleh polisi terhadap terdakwa Muhammad dan Dhawiya.

“Sejauh mana saudara saksi tahu polisi dimana. Polisi masuk nggak. Lalu diketemukan apa,” tanya ketua majelis  Ainor yang akrab disapa.

“Dicelananya ada apa. Lalu, apa tindakan polisi. Polisi tahu dari mana. Ada saksi Sehan ada saksi Airuli. Jadi, semua ini diambil dikamar Dawiya. Ini saudara tahu milik siapa. Saudara tahu ini barang siapa. Ini apa. Dawiyah sering nggak menggunakan sabu,” tanya hakim kembali.

Lanjut saksi, dalam percakapan menjelaskan diruang persidangan tentang barang bukti yang diketemukan dikantong celana jins dan saat penggeledahan bertemu dengan Dawiyah serta Sehan pada malam itu.

“Sabu dicelanya jins. Dia nyari Dawiyah. Kamar Dawiyah. Ada Dawiyah, Sehan. Setelah saya tahu iya itu. Dawiyah (milik). Barang-barang ada ini ada ini. Sempat lihat. Nggak tahu. Cangklong. Saya nggak dekat dengan Dawiyah,” ujar Zaenal.

Selain itu, JPU meminta penjelasan saksi terkait tempat tinggal dan kamar-kamar yang turut hendak digeledah oleh petugas.

“Saksi Zaenal tadi kan satu rumah ya. Mereka bukan satu rumah. Waktu dibuka kamar Dhawiya siapa yang kamu lihat. Nggak tau barang bukti yang diambil dari Dhawiyah dan Muhammad,” tanya Tolhan dari Kejati DKI Jakarta.

“Berbeda dengan rumah Sehan. Polisi buka ada Dhawiyah ada Sehan ada polisi masuk dulu. Kalau Muhammad diluar Bu digeledah ya. Ini bukti-bukti punya Dhawiya,” jawab saksi.

Kemudian, dipertanyakan kembali oleh Lena sebagai JPU dari Kejari Jaktim kepada saksi atas kedatangan terdakwa Muhammad yang kerap menyambangi rumah tersebut lalu apa yang dilakukan oleh terdakwa.

Keluarga Dawiyah memberikan kesaksian di persidangan PN Jakarta Timur. (24/07/18)

“Seberapa sering Muhammad datang krmh itu. Biasanya apa yg dilakukan Muhammad,” tanya Lena.

“Seminggu tiga kali. Nonton tv biasa diruang tengah,” jawab saksi.

Lain halnya dengan saksi Sehan, mengutarakan keterangan uang yang dititipkan melalui istrinya (saksi Airuli Gita) diperuntukkan membeli sabu-sabu seberat 1/4 gram. Dan tentang timbangan yang disita polisi dibantah olehnya ketika bersaksi akan tetapi timbangan itu dipergunakan olehnya untuk menimbang batu akik.

“Saya serahkan uang ke isteri. Kita janjian terakhir itu memang untuk beli sabu. Timbangan itu untuk mengukur batu cincin. 1/4 gram mangkanya sedikit sekali,” ucap Sehan.

Selanjutnya, saksi Airuli Gita pun turut memberikan keterangan dihadapan Majelis Hakim, tentang sejumlah uang untuk membeli narkotika senilai Rp.400 ribu dan selanjutnya diserahkan melalui Muhammad.

“400 ribu saya titipkan ke Muhammad. Cuma satu (kantong). Iya sabu yang 400 ribu dipakai Muhammad dan Dhawiya,” singkat saksi.

Namun, sebelum sidang ditutup Majelis Hakim memberikan kesempatan kepada kedua Terdakwa bila ada keterangan tambahan diperkenankan untuk disampaikan.

“Saya ingin menambahkan agar cukup jelas seperti keterangan Gita (kakak ipar-red). Sebenarnya saya sudah serahin ke Gita. Kita make masing-masing punya mereka punya mereka, punya saya punya saya,” jelas terdakwa Dhawiya. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *