oleh

Warga Komplain Proyek Stasiun Buaran 16 Tahun Rumah Miliknya Belum Dibayar PT.KAI

Jakarta, TribunAsia.com – Keluh kesah warga RT 07/008 yang belum menerima pembayaran double-double track (DDT), proyek pembangunan Stasiun Buaran sejak tahun 2002. Menurut keterangan Muhayan, saat ini tinggal ditepi jalur ganda kereta api, didalam bangunan rumah yang belum terbebaskan itu dihuni oleh 3 kepala keluarga (KK).

“Dari tahun 2002 sampai 2018, 16 tahun belum dibayar. Disini ada 3 KK. Banyak yang bermain imbasnya proyek, saya bukan menghalang-halangi proyek abis bagaimana lagi saya belum dibayar. Sudah beberapa kali ke Walikota (Jaktim) dengan alasan camat berkas sudah sama dia, padahal berkas sudah ditangan dia. Kita punya surat dari orang tua ini waris,” keluh Muhayan  yang berdomisili di Kelurahan Jatinegara Kecamatan Cakung, Jakarta Timur tersebut, hingga 16 tahun lambannya pembayaran oleh pihak Perhubungan melalui PT.Kereta Api Indonesia sebagai pengelola jasa pelayanan transportasi darat.

banner 336x280

Selain itu, hampir tiap waktu, debu yang bertebaran menjadi pemandangan akrab disekitar lingkungan tempat tinggalnya, belum lagi dampak bagi kesehatan.

Bahkan, seisi rumah milik keluarga  dipadati debu ketika kereta berlalu termasuk saat pekerja proyek melaksanakan pembaikan jalan dengan alat berat getaran pun sangat kuat terasa.

“Dampak debu terutama abu. Kalau ada getaran alat berat itu barang-barang pada jatuh. Proyek (kontraktor) yang turun kelapangan itu pak Endang,” imbuh Muhayan kepada TribunAsia.com, Senin (23/7/2018).

Sambungnya, diperkirakan banyak oknum yang dinilai tidak bisa bekerja dengan baik sehingga, permasalahan pembebasan lahan miliknya terlantar dan tidak memiliki pilihan selain bertahan dilokasi yang tidak layak termasuk mengganggu pernapasan.

“Oknumnya nggak beres sudah beberapa kali ganti-ganti lurah dari 2002 sampai 2018. Ada 4 meter (jarak) rel kereta api ke rumah. Dampak belum dibayar ini debunya,” ungkap warga yang ingin segera dibayar.

Tidak hanya itu, keselamatan warga pun terabaikan yang mana ketika pengerjaan proyek berlangsung tidak ada pembatas keselamatan dari perlintasan kereta api dengan pemukiman warga. Nampak, bebasnya anak-anak bermain ditepi perlintasan yang beresiko dengan keselamatan. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *