oleh

Saya Pernah Sedekah 1 Miliyar Rupiah

TribunAsia.com

Oleh : Amir Kumadin

banner 336x280

Menggunakan FINTECH PayTren secara pribadi menguntungkan, dan lebih menguntungkan lagi dalam bentuk berjamaah.

Contoh kecil, jika Anda masih sebagai customer (pelanggan) saat membayar token listrik di outlet mitra PLN atau di mini market-mini market milik mereka, maka tiap transaksi Anda terkena biaya Rp.2.500.

Tapi jika Anda sudah menjadi subyek bisnis, yaitu dengan meggunakan PayTren, maka Anda cuma terkena biaya Rp.1.800.

Ada selisih yang cukup signifikan, yaitu Rp.700. Itu baru satu transaksi.

Belum lagi transaksi seperti Pulsa Handphone, Tiket (pesawat, kapal laut, dan kereta api), PLN Token dan Pasca Bayar, BPJS, PDAM, TV Prabayar, TV Cable, Voucher Gym, Multy Finance, Asuransi, Speedy, e-Book, dan lain-lain.

Dalam sehari, orang-orang yang tergabung dalam PayTren, bisa melakukan transaksi hingga jutaan transaksi per hari. Menurut sumber yang terpercaya, hingga kini sudah mencapai 5 juta-an transaksi tiap hari.

Karena anggota PayTren saat ini sudah -+ 2,2 juta pengguna. Kalau anggotanya/penggunanya bertambah, maka transaksinya pun akan bertambah pula. Sehingga nanti bisa puluhan juta transaksi per hari.

Padahal setiap transaksi ada sedekah di dalamnya. Meskipun cuma 50 perak hingga 100 perak.

Yaitu, sedekah untuk yatim, fakir miskin, dhu’afa, para penghafal Al-Quran, rumah tahfizh, dana dakwah pedalaman, seperti membangun jembatan, sumur-sumur air bersih, puskesmas, klinik/rumah sehat, sekolah, masjid, Islamic Centre, dana kemanusiaan, dan seterusnya di pedalaman maupun di negara-negara maju yang masih minoritas muslimnya.

Pernahkah Anda sedekah kepada saudara-saudara Anda sendiri yang berada nun jauh di pedalaman dan luar negeri, yang sedang sangat membutuhkan bantuan dan pertolongan Anda ..?!!!

Misal lewat Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII), Dompet Dhu’afa (DD), PKPU, Hidayatullah (BMH), ACT, dan lain-lain.

Kalau sudah, alhamdulillaah. Lanjutkan…!!!

Kalau belum, mari kita sama-sama sedekah 1 milyar rupiah tiap bulan, puluhan milyar rupiah tiap tahun, dan hingga nantinya ratusan milyar rupiah bahkan triliunan rupiah, dan seterusnya. Yaitu, dengan bergabung dan menggunakan PayTren.

Itulah wujud sedekah spektakuler, yang cuman dari uang recehan, tapi karena dibangun di atas sistem berjamaah dengan teknologi IT yang canggih, hasilnya ratusan juta rupiah tiap hari, milyaran rupiah tiap bulan, hingga triliunan rupiah tiap tahun. Maa syaa allooh laa quwwata illaa billaah.

Itulah yang saya maksud dengan “Saya pernah sedekah 1 milyar rupiah” dalam judul di atas.

Yakni, sedekah secara berjamaah. Meskipun sedekahnya cuman 100 perak, tapi karena dengan berjamaah, sebagai satu kesatuan yang utuh, maka dari recehan itu  menjadi milyaran.

Kembali ke pokok masalah…!!!

Belum profit dari PayTren nya itu sendiri. Dimana, denger-denger, menurut shohibul bait, profitnya sudah triliunan rupiah.

Yang tentunya bisa untuk membeli aset-aset  negara yang belum dijual maupun yang sudah. Bahkan bisa membeli kekuasaan dan politik demi kepentingan rakyat dan bangsa Indonesia tercinta.

Pilih mana, PayTren milik Yusuf Mansur, saudara kita sendiri, atau Ali Pay milik Jack Ma…?!!!

Dimana Jack Ma dengan Ali Baba nya, termasuk AliPay di dalamnya, sudah meraup profit ratusan triliun rupiah di seluruh dunia.

Yang siap membeli aset-aset negara kita, bahkan siap membeli partai politik, politik, dan kekuasaan.

Bukti-bukti yang  mengarah ke sana adalah, Ali Baba telah mengaquisisi market place Lazada, Tokopedia dan menyuntik dana triliunan rupiah ke Gojek, dan lain-lain.

Belum lama ini, Ali Baba juga telah membangun gudang market place nya di Cimanggis, Depok, Jawa Barat, di atas tanah seluas 6 hektar.

Oleh sebab itu, kita harus dukung, topang, peduli, bantu usaha-usaha milik umat Islam, apapun bentuk usaha/bisnisnya. Yaitu, dengan membeli  produknya, menggunakan jasanya, termasuk PayTren, atau beli di warung, toko, dan mini/super market, termasuk marketplace, milik muslim.

Kalau kita gak ikut main di dunia FINTECH seperti PayTren, dan segala bentuk bisnis lainnya, dan kita tidak ikut peduli dan membantu  dengan menjadi pelanggannya, maka pasti peluang itu akan diambil oleh mereka kaum kapitalis. Dan pada saat yang sama, secara otomatis, kita akan digiring dan masuk dalam perangkap jaringan bisnis mereka, yang pada akhirnya kita hanya sekedar menjadi obyek dan konsumen setia mereka.

Dan kalau semua itu kita enggak lakukan, maka berarti kita sudah puas dengan hanya meminta-minta kepada mereka dalam bentuk beasiswa, bantuan CSR, dana untuk bangun masjid dan ponpes, sekolah dan lain-lain.

Lihat kasus seorang konglomerat yang datang dan melihat pondok-pondok pesantren masih pada kumuh-kumuh, akhirnya dia, konon katanya enggak tega itu terjadi, lalu dia memberikan sumbangan ke ponpes-ponpes tersebut.

Enggak tahunya ada udang di balik batu. Ada kepentingan di dalamnya. Ada kampanye di belakangnya…!!!

Yakni, kita cuma jadi obyek mereka. Padahal mereka cuma ngasih recehannya kepada kita. Untungnya yang triliunan rupiah mah ditumpuk-tumpuk, untuk kemudian dibikin perusahaan raksasa lainnya. Lagi-lagi, kita digiring dan dikendalikan untuk jadi obyek, konsumen dan budak mereka.

Bahkan duit recehan itupun diambil, konon,  dari kita-kita juga dalam bentuk uang kembalian, dan lain-lain.

Artinya, yang namanya kapitalis itu tidak mau sedekah kalau tidak menguntungkan atau kalau tidak kembali ke mereka lagi.

Artinya juga, hakikatnya yang sedekah ke kita, kita-kita juga, dalam bentuk sumbangan formalisme dari mereka.

Ya, karena kita juga yang menjadikan mereka kaya raya. Yakni, kita yang beli dan menggunakan  produk barang atau jasa milik mereka. Kita hanya jadi konsumen setia mereka selamanya.

Tahukah Anda bahwa hakikat dari kapitalis itu adalah mereka para pemilik modal besar, lalu modal itu mereka gunakan untuk membangun corporation dan industri, setelah itu mereka menciptakan produk barang/jasa dalam sekala besar, masif dan cepat, lalu menggiring orang lain, kita khalayak ramai, masyarakat, dengan iklan-iklan di TV dan media masa lainnya, dan iklan-iklan itu akhirnya menetap dan hidup dalam bawah sadar kita, hingga akhirnya kita semua menjadi buruh, obyek pasar, dan konsumen loyal produk mereka sepanjang hayat, demi kepentingan dirinya sendiri atau kelompoknya, sehingga mereka semakin kaya, kaya, dan kaya tanpa batas…?!!!

Dalam arti yang lain, mereka kaum kapitalis itu menghendaki dirinya semakin kaya raya, sementara orang lain, kita tidak boleh menyaingi mereka, agar tetap miskin dan jadi jongos atau hamba sahaya alias budak mereka, dalam berbagai manifestasinya, selama hidupnya (Emha Ainun Najib).

Ya, kita dalam segala hal cuma rela dikibulin dan dijajah oleh mereka terus. Mau sampai kapan kayak gini…?!!! Satu-satunya jalan yang harus kita umat Islam tempuh adalah :

KITA HARUS JADI SUBYEK  DAN PELAKU BISNIS ATAU PRODUSEN,  DALAM SEGALA BENTUK PRODUK BARANG/JASA,  UNTUK KEPENTINGAN DAN KEBUTUHAN SEMUA MANUSIA DI  BUMI. TANPANYA, KITA, PRIBUMI, UMAT ISLAM, BISANYA HANYA CUMA JADI PEMULUNG YANG MENGAIS-NGAIS SISA-SISA REJEKI PARA KAPITALIS ITU…!!!!

Wassalaam.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *